Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Mei 2017

Algoritma Syukur Sebagai Pembalik Kondisi Suatu Program Kehidupan


Apa hubungannya Algoritma yang notabene bahasa dari anak TI (Teknologi Informasi) dengan Syukur dan Kehidupan? Bingung bukan? Yang jelas tulisan ini tidak akan membahas tentang bahasa TI yang sangat teknis dan belibet itu. Saya hanya meminjam istilah dari Algoritma dan Pemograman untuk semata membuat istilah Syukur dan Kehidupan menjadi lebih punya bentuk. Mengapa? Karena kata "Syukur" dan "Kehidupan" adalah bahasa filosofis yang cenderung absurd dipahami jamak masyarakat Indonesia yang bukan seorang filosofis.

Algoritma dan Pemrograman

Namun ada baiknya saya jelaskan sedikit apakah itu Algoritma dan Pemrograman. Sederhananya, Algoritma dijelaskan sebagai Prosedur untuk memecahkan suatu masalah. Paham? Segitu saja penjelasan saya tentang Algoritma supaya pemahamannya tidak meluber yang justru menjadi lepas dari topik utama.

Sedangkan pemrograman sendiri sederhananya dipahami sebagai Proses menulis, menguji dan memperbaiki. Sekali lagi tentang pemrograman ini saya tidak akan jelaskan terlalu dalam. Bagi yang tertarik terhadap kedua istilah TI tersebut lebih jauh, bisa Googling saja, sederhana bukan?

Syukur dan Kehidupan

Mari kita masuk kepada inti tulisan ini. Apa hubungannya Syukur dan Kehidupan? Syukur dan Kehidupan memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Coba tarik ke dalam konsep berpikir dualitas yakni baik dan buruk, sedih dan bahagia, dan konsep dualitas lainnya. Pada kata "Syukur" merupakan "Algoritma" yang melampaui dengan konsep dualitas itu sendiri. Mau bukti? Orang baik akan bersyukur karena melakukan hal - hal yang baik, sedangkan orang buruk pula akan bersyukur apabila telah melakukan hal yang buruk. Dalam soal pemaknaan dualitas spektrum dari algoritma Syukur melampaui dua sisi berlawanan namun tidak terpisahkan, dualitas. Bingung? Awas kram otak.

Oke peregangan otak dulu.

lalu bagaimana dengan kehidupan? Kehidupan sendiri sejatinya terikat dengan dualitas itu sendiri. Dalam kehidupan sehari - hari ada kebutuhan badaniah yang tidak bisa dihindari, misalnya makan. Jadi ketika makan itu menjadi "baik" dan tidak makan itu menjadi "buruk". Begitu seterusnya, hingga manusia perlahan menciptakan konsep keadaban yang seringkali disebut "sistem", dalam pemahaman lebih teknis "Sistem" tersebut dapat kita temukan sebaga "Agama", "Hukum", "Tata Krama", dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana mengaitkan Algoritma Syukur dalam Pemrograman Kehidupan?

Ini bagian menariknya, meskipun "Syukur" sebelumnya saya sebut sebagai Algoritma yang melampaui dualitas. Makna "melampaui" sendiri pada dasarnya tidak bisa disebut tidak terikat langsung oleh dualitas, makna "melampaui" sendiri juga menempatkan Algoritma "syukur" pada posisi "tidak keduanya, namun tidak pula tiada di keduanya" . (Oke, sengaja saya miringkan ya. Bagi bukan pembaca pikiran Zen harus berulangkali membacanya, bagi yang sudah terbiasa dengan pikiran Zen saya yakin lebih mudah memahaminya.).

Namun (melanjutkan kata "meskipun" pada paragraf sebelumnya) Algoritma "Syukur" juga dapat berguna sebagai "pembalik" kondisi dalam kehidupan kita. Mau contoh? Biasanya dengan contoh kita akan lebih mudah memahaminya. Ini dia contoh Algoritima "Syukur" sebagai pembalik Kondisi yang mudah ditemukan dalam percakapan kita sehari - hari.

"Kemarin sahabatku kecelakaan parah, motornya hancur tidak berbentuk. Temanku tidak sadarkan diri, SYUKUR, temanku tidak terluka."
Mulai sedikit paham bukan? Bagaimana jika kita lihat contoh yang lain.

"Kakeknya meninggal kemarin saja dirumah sakit, SYUKURLAH Kakeknya meninggal, penderitaan sakit puluhan tahun sudah tidak lagi dirasakannya"
Gila bukan? Bagaimana suatu kata syukur membalik kesedihan (yang memiliki unsur buruk) diubah menjadi baik. Bahkan kematian, misteri manusia terbesarpun menjadi hal yang sangat indah didengar.

Mudah - mudahan tidak kram otak.

Pemaron,
16 Mei 2017


Senin, 09 Januari 2017

Menjawab Manfaat Berjenggot (Bagi Saya)


Barangkali tulisan ini termasuk tulisan yang tidak terlalu penting - penting amat, tapi untuk beberapa pertanyaan yang telah terlontar maka akhirnya saya tulis saja beberapa manfaat berjenggot (sekaligus berkumis) yang menurut saya pribadi, dijamin tidak ada yang menulis artikel sejenis di tempat lain.

Pola menemukan jawaban dari apa manfaat dari berjenggot sebenarnya sedikit menggunakan alur yang terbalik, artinya jika suatu jawaban muncul sebelum dilakukan tindakan yang ditanyakan tersebut, maka dalam kasus berjenggot saya ini jawaban - jawaban itu saya mendapatkannya dari penemuan, kontemplasi, serta perenungan mendalam tentang berjenggot, yang keluarnya dalam bentuk ucapan kadang disertai tidak sadar. 

***

1. Berjenggot Karena Kebutuhan Sosial

Ini alasan pertama, yang saya gunakan diawal - awalan jenggot sudah mulai tumbuh. Seperti yang kita paham, kebanyakan dari masyarakat kita sukanya melihat 'bungkus' daripada 'isi', misalnya orang lebih menyukai melihat makanan yang kemasannya berwarna warni dan berpenampilan apik, meskipun rasanya tidak jelas dan cenderung merusak lambung.

Begitupula dengan tingkat penerimaan dalam masyarakat kita, masih banyak orang memandang layak atau tidaknya suatu pandangan dikait - kaitkan dengan penampilan, semisalnya jika penampilan kucel dan lusuh meskipun menyampaikan gagasan yang cemerlang tentunnya tidak akan begitu didengar, sebaliknya jika yang mengatakan hal tersebut berpakaian yang putih - putih sampai memenuhi rambut di kepala meskipun hal tersebut keliru pastinya masih dianggap kebenaran. Dalam perihal soal kemasan tersebutlah saya memelihara jenggot saya.

Acapkali dalam beberapa pertemuan dengan orang baru yang sebagian orang yang jauh lebih tua dari saya, jenggot saya senantiasa mencuri perhatian. Entah negatif atau positif intinya mencuri perhatian, dari situ sudah tertanam citra bahwa saya 'bukanlah orang biasa'. Nah, persepsi yang telah terbangun itulah yang sebenarnya menjadi landasan saya menyampaikan gagasan kepada orang tersebut, karena secara nirsadar, orang tersebut sudah menganggap saya tua dengan simbol berjenggot ini.

2. Berjenggot Sebagai Menutup Ketampanan, Namun Tetap Karismatik

Bagian ini mungkin agak berlebihan, bagi yang mengenal saya mungkin akan ngakak sejadi - jadinya. Tapi percayalah, fase ketika kita memiliki wajah yang tidak jelek (pada judul saya beri istilah 'Ketampanan') disertai dengan cara berpikir yang berbeda tentu akan memikat banyak minat dari lawan jenis (untuk sesama jenis saya tidak mau membahas ya), hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri. Karena dibalik semua kenyataan yang saya ungkap tadi, saya harus hidup belajar mencapai titik kebijaksanaan tertinggi, dan sebagai laki - laki salah satunya adalah pantang berbanyak - banyak main hati perempuan.

Namun, menutup ketampanan tidak semudah yang dibayangkan, meskipun sudah jarang mandi namun rasanya belum cukup, maka berjenggot menjadi solusi lain tanpa harus kehilangan karismatik diri. Cara ini dirasa cukup efektif, dengan gaya yang kadang berpakaian tidak jelas dan berjenggot tentu sebagian besar lawan jenis pasti enggan pada pandangan pertama, itu bagus bukan?

3. Berjenggot adalah Identitas

Di jaman yang penuh dengan rasa bosan ini, setiap manusia dituntut kembali pada identitas dirinya. Secara umum pemenang - pemenang jaman ini berasal dari kelompok masyarakat yang konsisten, baik konsisten dalam pikiran, konsisten dalam perkataan, serta konsisten dalam perbuatan. Termasuk berjenggot, karena cukup lama saya berjenggot (sekitar 2 tahun), maka identitas tersebut akan menempel pada diri saya.

Keuntungan berjenggot sebagai identitas adalah kemudahan dikenali. Misalnya jika ada yang bertanya, "Bapak siapa namanya tadi itu yang berjenggot?", atau jika ada yang menunjuk semisal, "Itu Bapak yang berjenggot itu". Dengan kemudahan identifikasi tersebut pun membuat saya harus berpikir ulang jika melakukan keburukan. Saya tidak ingin muncul ucapan, "Hey, itu Bapak yang berjenggot itu belum bayar nasi babi guling!". Tidak enak didengar bukan? Sungguh.

4. Berjenggot Sebagai Dekonstruksi Gagasan

Apa itu dekonstruksi? Dekonstruksi adalah pembongkaran persepsi. Dalam hal gagasan, dekonstruksi dimaksudkan untuk meruntuhkan nilai yang telah terbentuk sebelumnya. Situasi Dekonstruksi tersebut membuka langkah berikutnya untuk membangun nilai ulang (rekonstruksi) diatas puing runtuhan nilai yang lama. Bingung? Saya juga bingung. Tapi mari kita perhatikan kisah nyata dari percakapan dibawah ini sebagai contoh Berjenggot sebagai dekonstruksi gagasan.

Kisah nyata :

Disuatu siang, saya di suatu Polres melakukan pencabutan alat pemancar sinyal internet. Harusnya biasa saja, tidak perlu pemeriksaan yang macam - macam karena memang surat jalan sudah ditangan. Namun oleh Kasi Tipol yang telah melihat jenggot saya sepertinya berpikir lain. Saya diminti KTP dan KTP saya di scan, padahal teman saya tidak.

"Bapak tahu, situasi belakangan ini agak sensitif, maksudnya Jenggot Bapak itu mirip ISIS, teroris yang sedang tren", ucap Polisi sembari menyerahkan KTP saya yang sudah di Scan.

Dengan spontan pun saya menjawab, "Bapak pun tahu, Sulinggih pun berjenggot, kenapa mereka tidak disebut teroris?"

Bapak Pol terlihat terkejut dengan jawaban saya. perlu sekitar 3 detik Bapak Pol tertegun, kemudian tertawa sambil menepuk pundak saya.

Saya yakin Bapak Pol itu tidak punya jawaban.

Apakah hal yang kita bisa petik dari percapan diatas? Bahwa jenggot saya berhasil memancing keluar gagasan bahwa semua berjenggot itu adalah teroris. Dan gagasan itu saya rubuhkan dengan menyepadankan jenggot Sulinggih (Pemuka agama tertinggi dalam Agama Hindu). Akhirnya terbangun suatu gagasan bahwa, berjenggot tidak selalu dikait - kaitkan dengan teroris.

Mulai paham? Jika masih bingung maka lambaikan tangan.

5. Berjenggot Untuk Meningkatkan Jiwa Kebijaksanaan

Ini adalah jawaban dari manfaat berjenggot yang paling luhur menurut saya. Setelah berjenggot saya merasakan beberapa hal, emosi jiwa yang meletup - letup bak merapi yang hendak menyemburkan laharnya. Mungkin secara spiritual jenggot saya seperti antena yang lebih sensitif menangkap gelombang spiritual lainnya makanya emosi saya lebih labil, namun ketimbang saya memberi alasan yang tidak logis seperti spiritual, maka barangkali alasan labilnya saya punya emosi adalah karena gatal dengan jenggot yang bertumbuh, seperti yang kita ketahui jenggot itu minta ampun gatalnya kalau sedang tumbuh - tumbuhnya, kalau sudah panjang biasanya hilang.

Selain itu, berjenggot juga akan mendapat stigma 'tua', meskipun dasarnya baby face tapi dengan berjenggot, dasar itu tertutupi sudah. Mau tidak mau, suka tidak suka, niat tidak niat saya yang sudah muncul kepermukaan dengan jenggot akan tersudut dengan stigma tersebut, dalam beberapa kondisi teknis, stigma tersebut mengharuskan kita menjadi pihak yang pengayom, berpikir luas dan bijaksana. Nah, keharusan itulah perlahan - lahan membiasakan diri saya untuk selalu bersikap 'tua' seperti yang saya jelaskan sebelumnya itu.

Dari pengalaman itulah pada akhirnya saya paham, mengapa kaum cerdik pandai dahulu berjenggot. Barangkali alasannya sama, "Jenggot menghantarkan mereka pada pencerahan batin".

***
Percaya atau tidak, itulah jawaban saya atas pertanyaan kenapa memelihara jenggot, saya tidak pula menyarankan para pembaca memelihara jenggot setelah ini, terutama kepada pembaca perempuan.

Kalianget,
9 Januari 2017

Senin, 28 September 2015

Ketika Spiritualitas Adalah Omong Kosong Belaka


Sepulang dari kampus mencari tanda tangan Pembimbing I, kebetulan melihat rembulan purnama yang sedang merekah. Sosoknya merendah, membulat menguning mesra bersama cakrawala.

Sejenak teringatan akan pembicaraan tentang spiritualitas bersama Sang Guru saat menghabiskan satu Purnama di tepi salah satu pantai di Denpasar.

***

"Spiritualitas adalah omong kosong!", ucapnya.

Saya merasa heran, beliau dikenal sebagai sosok spiritualis justru mengatakan jika spiritualitas hanyalah omong kosong.

"Sebanyak apapun orang berbicara bahkan berdiskusi tentang spiritualitas, tetap saja akan menjadi omong kosong. Karena tidak bisa dijelaskan, namun bisa dirasakan dengan cara berlainan oleh tiap manusia", Tambahnya.

Saya terdiam, mencerna setiap kata yang terucap. Laut malam menjilat tepi daratan, sedikit demi sedikit meninggi mencoba menelan pantai

Melipat tangan dibelakang badannya, sembari menatap rembulan malam itu Sang Guru menyempurnakan penjelasannya tentang jalan spiritual.

"Jalan spiritual itu ibarat gang sempit, cukup dengan satu badan saja. Engkau boleh mengikuti seseorang, demikian juga engkau boleh diikuti seseorang dibelakangmu. Tapi Engkau tidak bisa merasakan hal yang dirasakan oleh orang yang kau ikuti dan demikian sebaliknya, kecuali... " Sang Guru menghela nafas ditengah menyempurnakan penjelasannya kepada saya

"Kecuali kau berada di tempat yang sama baru Engkau dapat merasakan hal yang sama. Seperti manisnya gula, sehebat apapun orang menjelaskan rasa manisnya gula. Tetap saja Engkau tidak akan betul betul memahami, sampai Engkau merasakannya sendiri", penjelasannya terakhir kali malam itu.

***

Saya masih ingat dengan aroma laut malam itu. Masih pula teringat pesan Sang Guru malam itu. Spiritualitas itu tidak bisa dijelaskan bahkan didiskusikan. Hanya bisa dirasakan dengan caranya masing - masing.

Banyak orang dijalan bersiap sembahyang di Pura yang mereka tuju masing - masing. Sedangkan saya hanya menyalakan dupa dalam kamar. Menulis pesan dari Sang Guru pada malam, beberapa tahun lalu,

Sidakarya, 28 September 2015

Kamis, 24 September 2015

Apakah hal yang paling penting dari sebuah pedang?

Apakah hal yang paling penting dari sebuah pedang? Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini ada baiknya Anda menyiapkan jawaban yang dihasilkan dengan waktu dibawah lima detik untuk memahami cara berpikir diri sendiri. Perlu diketahui, metode identifikasi ini sebenarnya saya adaptasikan dari suatu pepatah, entah pepatah mana yang saya dengar. Saya lupa.


Yang jelas, apapun jawaban nantinya. Jawaban tersebut tidak terikat benar dan salah. Sekali lagi saya tidak ingin mengikatkan diri pada dualitas antara benar dan salah. Saya mencoba berdiri tidak di kedua hal tersebut.

Lebih dari sepuluh orang saya sempat tanyakan hal yang sama. Apakah yang lebih penting dari seuah pedang? Kebanyakan menjawab mata tajam pedangnya, ada juga yang menjawab pegangan pedang itu sendiri. Namun saya selalu membantahnya.

Mengapa orang kebanyakan menjawab hal yang terpenting dari sebuah pedang adalah mata tajamnya? Saya memiliki pendapat sederhana terkait dengan jawaban tersebut. Bagi Anda yang menjawab mata tajamnya, tentunya Anda dalam melakukan sesuatu berfokus pada kekuatan, kelebihan atau kecerdasan.

Hal ini wajar saja, karena sebagian dari kita dibesarkan untuk mencapai titik tertinggi dalam pencapaianya. Namun dalam pencapaian titik tertinggi itulah kadang orang mudah sekali terjebak pada pikirannya sendiri, mengapa? Karena diatas tinggi masih ada tinggi. Begitu seterusnya.

Bagian Terpenting dari Sebuah Pedang Adalah
Ketika saya bantah tentang mata tajam sebagai jawabannya tentunya orang yang saya tanyakan itu akan bertanya kembali,

"Lalu, apanya yang paling penting dari sebuah pedang?"

Saya akan menjawab, "Bagian paling penting dari sebuah pendang adalah sarung pedangnya"

Biasanya orang tersebut akan mengerenyitkan dahinya tanda skeptis. Tapi saya memaklumi, dikarenakan hal yang saya sudah paparkan sebelumnya diatas.

Mengapa sarung pedangnya? Alasannya sederhana sekali, setajam apapun pedang yang kita bawa. Jika tidak memiliki sarung pedang maka ketika kita membawanya pasti kita juga akan ikut terluka. Jika bertemu kawan, kita justru akan melukai kawan, bahkan bertemu saudara kitapun bisa melukai saudara sendiri. Alih - alih kita melukai musuh, jumlah kawan dan saudara yang terluka oleh pedang kita kita yang tanpa sarung itu justru akan berjumlah lebih banyak ketimbang musuh yang terluka oleh pedang kita.

Persiapkanlah sarung pedang yang bagus, sebelum kita menajamkan mata pedang kita.

Sidakarya, 24 September 2015

Selasa, 28 Juli 2015

Gelang Biru "Indonesia Diselamatkan" Terputus, Pertanda Apakah Ini?


Pagi ini, di depan laptop ketika bekerja seperti biasa anjing jenis kintamani campuran yang saya pelihara naik di kursi sebelah kanan saya. Biasanya dia duduk minta dipangku, namun lebih sering dia biasanya minta diajak bermain - main. Main - main ala anjing memang tidak sekedar main - main. Kita bisa ikut lari - lari bersama kelincahannya atau tangan sedikit tergores karena digigit gigit kecil.

Hari ini dia menggigit gelang biru saya sampah terputus.

Bukan gelang mahal, tapi kisah mendapat gelang ini begitu menarik untuk ditulis. Sekitar dua tahun lalu, saya ditugaskan untuk mengambil uang transaksi dupa oleh Bapak. Tempat mengambilnya memang jauh dari rumah yakni di Kota Denpasar, sedangkan Bapak dan industri dupa berada di Kabupaten Buleleng, 3 -4 jam perjalanan ditempuh dari kota Denpasar.

Cukup lama menunggu, perhatian saya tertuju pada kerumunan orang yang baru saja keluar dari sebuah gereja. Hari itu memang minggu, waktu ibadah umat kristiani (saya masih belum jelas apakah itu Katolik ataupun Kristen). Namun hanya sebentar saja saya perhatikan saya kembali memperhatikan telepon seluler yang saya pegang. Menunggu konfirmasi pertemuan dengan konsumen Bapak saya.

"Indonesia Diselamatkan!"

Entah karena saya sedang tidak memperhatikan, dihadapan saya berdiri seorang Bapak dengan senyum sumringah meneriakkan berulang kali "Indonesia Diselamatkan! Indonesia Diselamatkan!". Sembari memasangkan gelang berwarna biru di tangan kanan saya. Saya hanya terdiam. Tersenyum, Bapak tersebut kemudian pergi setelah saya ucapkan terima kasih.

Disekitar saya melihat orang - orang yang serupa membagikan gelang tersebut. Jika saya perhatikan, orang - orang tersebut berasal dari gereja tadi. Saya kembali menatap gelang pada tangan saya dan membaca tulisan pada gelang.

"Indonesia Diselamatkan. Oleh Siapa? Oleh Tuhan kah?"

Saya skeptis, apakah Tuhan serta merta datang kemudian menyelamatkan Indonesia dengan sebegitu jelasnya kah? Apakah Tuhan datang seperti Calon Bupati yang sedang berkampanye yang membawa segepok uang dan berkata "Ini uang, dan kamu terselamatkan!". 

Tidak

Tidak demikian, kitalah sendiri yang akan menyelamatkan Indonesia. Rasa bakti kita kepada Tuhanlah yang membuat kita harus berdedikasi untuk menyelamatkan Bangsa Indonesia.

Kembali kepada gelang "Indonesia Diselamatkan" yang putus digigit anjing, apakah artinya, Apakah Indonesia tidak akan terselamatkan?

Tidak

Gelang terputus ini tidaklah berarti apa - apa, kita jualah yang tetap menyelamatkan Indonesia. Ya, kita anak - anak Indonesia.

Sidakarya, 28 Juli 2015 

Minggu, 07 Juni 2015

Menjebol dan Membangun Pemikiran Bung Karno tentang "Banyak Bicara, Banyak Kerja"

Menjebol dan Membangun Pemikiran Bung Karno tentang "Banyak Bicara, Banyak Kerja"

Talk less do more atau dalam Bahasa Indonesia yang berarti sedikit bicara banyak kerja sempat menjadi tren di masyarakat. Beberapa kali saya membenturkannya dengan konsep pemikirannya Bung Karno yakni Talk More Do More alasannya adalah yang sedikit bicara dan banyak kerja itu adalah kaum buruh atau budak yang tidak memiliki hak untuk berbicara.

Talk More Do More atau dalam Bahasa Indonesianya adalah banyak bicara dan banyak bekerja dianggap pada era Bung Karno untuk memupus jiwa terjajah yang ada di setiap rakyat Indonesia. Namun belakangan pertanyaan dalam diri mulai bermunculan, masihkah relevan istilah banyak bicara banyak Bung Karno?

Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap pendiri bangsa tersebut, saya memberanikan diri untuk meruntuhkah terminologi banyak bicara dan banyak kerja. Terminologi tersebut saya benturkan dengan kenyataan kini bahwa banyak sekali orang bicara, banyak sekali orang kerja namun lebih banyak lagi orang yang antara apa yang dibicarakan dan dikerjakan tidak nyambung dan tidak ada hubungannya.

Sintesanya?
Setelah menjebol dan membangun kembali terminologi yang sempat dibangun Bung Karno, akhirnya saya mendapatkan sintesanya. Yakni, "banyak mengerjakan apa yang dibicarakan dan banyak membicarakan apa yang dikerjakan". Bagi yang tidak terbiasa dengan bolak - balik kata, mungkin akan perlu membaca lebih dari sekali, hehe.

Penjelasan sederhananya adalah, penting sekali kita mengerjakan hal - hal yang telah kita bicarakan untuk menjadi sesuatu yang nyata. Karena dalam dunia yang semakin materiil, orang perlu 'prestasi' dan pengertian prestasi identik dengan benda yang memiliki wujud, bukan hanya semata - mata pemikiran. Dan juga, penting sekali untuk membicarakan apa yang dikerjakan, maksudnya adalah dalam apapun pemikiran yang telah menjadi karya nyata harus disebarluaskan, dibagikan, dikisahkan untuk mendapat koreksi menuju penyempurnaan. Jika apa yang dikerjakan menjadi berguna bagi orang lain, jika dikisahkan dan dibagikan tentunya akan menjadi inspirasi bagi orang lain.

Misalnya, dengan menulis blog seperti ini. :D

Tulisan ini menjadi penghormatan kepada Eka Mulyawan karena datang - datang untuk mengobrol dan terbitlah pemikiran itu.

Sidakarya, 7 Juni 2015

Jumat, 22 Mei 2015

Seorang Pemimpin Harus Memiliki Dua Hati

Seorang Pemimpin Harus Memiliki Dua Hati

Dari judulnya saja pasti banyak orang akan mengajukan protes kepada saya, terutama para perempuan. Barangkali saya akan di cap sebagai orang yang sepakat dengan pemimpin yang punya banyak istri.

Sisanya saya akan di cap sebagai orang yang sepakat dengan pemimpin yang tidak konsisten, kesana - kemari dan tidak tegas. Namun saya maklum, jika saya tidak menjelaskan maksud dari pemahaman saya tentang seorang pemimpin harus memiliki dua hati.

Kalau tidak salah ingat, sempat saya membaca tulisan seorang pujangga bernama Kahlil Gibran, katanya seorang pemimpin harus memiliki dua hati, satu hati untuk tegar dan satu hatinya lain untuk menangis. Mengapa demikian? Menurut penafsiran saya seorang pemimpin itu tidak boleh menunjukkan sisi emosionalnya kepada bawahannya. Entah itu bahagia, entah itu sedih, entah itu marah ataupun entah itu curiga. Sepintas memang terkesan tidak manusiawi. Namun saya sepakat tentang pendapat itu.

Bagi saya, pemimpin itu adalah puncak. Tempat mengadu bawahannya jika mengalami kesusahan, barangkali semua pemimpin harus siap menjadi tong sampah curhatan bawahannya. Tidak boleh mengeluh.

Seorang pemimpin harusnya memelihara harapan betapapun tidak mungkinnya situasi yang dihadapi kelompoknya. Bahkan jika harus berbohong sekalipun, harapan harus tetap dinyalakan karena tanpa harapan sedikitpun manusia tidak akan bisa hidup.

Ada sebuah puisi dari Bung Karno yang kembali membuat saya teringat dengan pendapat Kahlil Gibran tersebut. Ditengah hingar bingar puja puji rakyat dan dunia kepadanya. Ternyata Bung Karno memiliki sisi yang sangat rapuh. Hanya saja tidak dia tunjukkan kepada rakyatnya ketika itu.

Saya hanya tidak bisa membayangkan. Ditengah dia harus menjaga nyala api semangat rakyatnya untuk berjuang melawan setiap penjajahan, terkadang dia menahan sisi 'manusiawi'-nya rapat - rapat dalam sebuah puisi. Ya sebuah puisi.

Sidakarya, 22 Mei 2015

Minggu, 10 Mei 2015

20 Alasan Tidak Menebang Pohon Intaran

Melanjutkan tulisan yang emosional tentang Rumah Intaran yang berjudul "Mengapa Intaran di Rumah Intaran?" Kali ini Saya akan mencantumkan satu foto kampanye Intaran yang di berikan oleh Bli Gede Kresna. Saya tidak akan mencoba mempertajam dalam tulisan ini, sementara posternya saja dulu saya cantumkan.

Semoga terlihat tulisan kecil kecilnya itu. 

Rabu, 06 Mei 2015

Mengapa Intaran di Rumah Intaran?

Mengapa Intaran di Rumah Intaran?
Maafkan Sandal Jepit dan Kaki Saya

Intaran, pertama kali saya mendengar Intaran yang terpikir hanyalah petikan salah satu lagu Bali, yakni alisne medon Intaran (Dalam Bahasa Indonesia : Alisnya secantik daun Intaran). Tidak ada pengetahuan apapun tentang Intaran sampai saya menghabiskan malam bersama teman - teman di Rumah Intaran (RI), di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali.

Pertanyaan Saya tentang RI sedari awal adalah kenapa Intaran? Kenapa tidak Rumah Mangga? Kenapa tidak Rumah Durian? atau Rumah Cabai saja? Ketika bertanya tentang hal tersebut, saya sudah mempersiapkan diri untuk mendapat reaksi apapun. Perasaan saya ketika menanyakan hal tersebut persis seperti perasaan saya ketika menanyakan kenapa kepala Burung Garuda Pancasila menghadap ke kanan pada guru saya ketika SMP dulu.

Namun tuan rumah RI, Gede Kresna menjawab pertanyaan saya seolah itu pertanyaan yang biasa - biasa saja. "Karena pada suatu waktu Saya tanpa sengaja mengetahui betapa Intaran begitu bermanfaat dan semua itupun telah tercatat dalam Ayur Weda", jawabnya sejauh yang saya ingat.

"Kebetulan di rumah ini banyak sekali pohon Intaran tumbuh seperti adanya", tambah Dia sembari beberapa menunjuk Pohon Intaran yang megah lembut terayun dalam gelapnya malam.

Saya lebih banyak diam, mendengar kisah lain tentang Intaran yang mungkin tidak bisa tertulis dalam satu tulisan ini. Dalam hati hanya ada niat membawa salah satu bibit Intaran yang telah menjadi kesan yang mendalam.

Esoknya saya dan teman - teman dibekali dua bibit pohon Intaran. Alasan saya meminta bibit Intaran adalah, supaya terlalu ingat akan filosofi dari Pohon Intaran.

Kedua bibit itu pula alasan kenapa tulisan ini terlambat hingga satu bulan dari kunjungan saya kesana, paling tidak untuk saya memastikan diri. Jika kepercayaan pemberian dari dua bibit Pohon Intaran tersebut telah tumbuh, bersama pemahaman terhadap filosofi dan manfaat Pohon Intaran itu.

Update : 20 Alasan Tidak Menebang Pohon Intaran

Sabtu, 18 April 2015

Membedah "Dream Small" ala Yoris Sebastian

Membedah "Dream Small" ala Yoris Sebastian

Karena hasrat memperdalam ilmu marketing dalam industri kreatif, pada akhirnya saya menjatuhkan idola pada Yoris Sebastian. Mengapa memerlukan idola? Dalam pemahaman saya, suatu pengetahuan hendak memiliki gurunya masing - masing. Entah secara langsung ataupun tidak.

Tulisan ini tidak akan "membedah" Yoris dengan identitasnya, namun melalui gagasan yang diusung oleh Yoris. Dalam sebuah tulisannya yang berjudul Dream Small : #JokowiPresiden kita akan menemukan bagaimana Yoris memandang Jokowi sama seperti memandang dirinya sendiri.

Memandang dirinya sendiri yang saya maksudkan adalah dalam pemahaman, sangat penting kita mengerjakan hal - hal kecil tetapi nyata dibanding berpikir tentang hal - hal yang muluk - muluk tetapi hanya sebatas angan - angan.

Bagaimana dengan pepatah yang mengatakan "Gantungkanlah mimpimu setinggi langit"? "Lalu apakah kita tidak boleh bermimpi setinggi langit?". Pertanyaan - pertanyaan skeptis tersebut awalnya muncul dalam pikiran saya.

Namun, setelah saya coba "berguru imajiner" sampai kebawa - bawa ke alam mimpi, saya akhirnya menemukan dasar dari konsep Dream Small yang Yoris selalu ia dengungkan. Yaitu, Dream Small sebenarnya adalah antitesa dari keadaan pemuda bangsa kita hari ini yang kebanyakan hanya bisa membangun konsep namun seringkali gagal dalam penerapannya.

Mungkin karena sistem pendidikan dan budaya asuh anak yang begitu memasung kreativitas sehingga sebagian besar dari kita takut untuk menantang kebiasaan yang sudah diterapkan secara turun temurun, ditambah lagi  dengan sifat kita yang enggan keluar dari zona nyaman.

Istilah terbarunya yaitu "Think out of the box - Execute inside the box" pun merupakan penyempurnaan dari konsep berpikir Dream Small ala Yoris Sebastian. Istilah tersebut adalah istilah yang menegaskan keseimbangan kreatifitas otak kanan dengan logika otak kiri, sehingga menghasilkan dampak yang luar biasa dalam industri kreatif Indonesia

Kamis, 19 Maret 2015

Ini Dia 5 Fenomena Ironi Sebelum Hari Raya Nyepi

Nyepi tahun 1937 caka jatuh tepat di hari Sabtu 21 Maret 2015. Adakalanya jika kita kembali menyimak penjelasan guru Agama Hindu (bagi Anda yang mendapatkan pelajaran Agama Hindu tentunya) kita akan mengenal Catur Tapa Brata Penyepian. Apakah itu? Sederhananya Catur Tapa Brata Penyepian merupakan tata cara kita merayakan hari raya Nyepi yang jatuhnya setahun sekali (berdasarkan kalender masehi). Catur Tapa Brata Penyepian sederhananya dijelaskan seperti berikut : 
  • Amati Geni artinya mengendalikan sifat - sifat kroda seperti amarah simbolisasinya dalam kehidupan adalah dengan tidak menggunakan Api selama sehari, Amati Geni dapat diartikan tidak memasak, tidak menyalakan cahaya.
  • Amati Lelanguan artinya tidak bersenang - senang, berfoya - foya dan berpergian. Simbolisasinya adalah berpuas dan tidak melakukan hal yang sifatnya menghibur diri
  • Amati Lelungan artinya tidak melakukan perjalanan keluar rumah, berdiam diri dirumah merenungkan diri terhadap apa yang telah dilakukan
  • Amati Karya adalah tidak bekerja, tidak melakukan rutinitas seperti biasanya
Ini Dia 5 Fenomena Ironi Sebelum Hari Raya Nyepi

Namun, belakangan muncul ironi dalam masyarakat, entah merupakan komodifikasi budaya tradisional terhadap lingkungan yang semakin moderen ataupun semacam 'negosiasi' semata. Masyarakat (khususnya di Bali) tentunya akrab dengan 5 ironi yang terjadi sebelum Nyepi. Ayo kita simak :
  1. Memborong Makanan H-1 Nyepi. Masyarakat Bali terutama di perkotaan selalu ramai di pasar tradisional ataupun pasar moderen. Tujuannya jelas, menyiapkan bahan makanan untuk Nyepi. Jika dilihat sejenak kadang persiapan tersebut seperti persiapan berkemah di pedalaman hutan selama seminggu.
  2. Kartu Ucapan Lilin. Mungkin tidak banyak, namun cukup mencuri perhatian saya disaat ada yang menggunakan ilustrasi lilin dalam kartu ucapan baik digital maupun cetak. Padahal anak kecilpun tahu jika menyalakan Api merupakan salah satu pantangan dalam Catur Tapa Brata Penyepian.
  3. Main Bola ditengah Jalan. Di masa kecil kita (mungkin sebagian dari kita kadang merasa jenuh disaat nyepi) kadang kita sering melihat anak - anak dan bahkan orang dewasa bermain bola di tengah jalan, mungkin karena di jalan sepi tidak ada kendaraan melintas.
  4. Ke Pantai di Sore Hari. Beberapa situasi saya sering melihat beberapa keluarga memilih berjalan - jalan di pantai ketika sore hari. Mungkin tidak semua keluarga, kebanyakan keluarga yang saya temui biasanya merupakan keluarga yang tempat tinggalnya tidak jauh dari pantai.
  5. Hotel Tetap Beraktivitas. Ini barangkali wujud negosiasi terhadap pariwisata yang begitu agung itu di Bali. Dalam beberapa obrolan dengan kawan saya yang juga pekerja hotel, mereka harus kembali bekerja pada pengerupukan (H-1) Nyepi untuk shift kerja selama hari raya Nyepi berlangsung.
Barangkali 5 ironi diatas tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana fenomena baru kita masyarakat Bali dalam merayakan Hari Raya Nyepi. Namun jika ada yang mempunyai pendapat lain bisa menambahkan ironi lain selain diatas.

Sabtu, 14 Maret 2015

Renungan Nyepi : Kendalikan Diri Anda Saat Melihat Foto Ini

Moksah swargasca narakam
Tiryabhawasca manusam
Cittapapasya jayate
Cittasya hyanubhavatah 



Terjemahannya :

Pikiran yang menyebabkan sang pribadi mendapat sorga maupun neraka,

pikiran menyebabkan menjadi binatang dan manusia, pikiran menyebabkan mendapat kemenangan, pikiran yang menyebabkan mendapatkan kelepasan.

Pikiran merupakan sumber perbuatan. Jika dia mengerjakan hal yang persis sama dan menginginkan hasil yang berbeda ini adalah pikiran sakit.

(Wrhaspati Tattwa, Sloka 16)

Dalam suatu pekerjaan kemarin yang harus membuat kata - kata ucapan untuk nyepi saya secara tidak sengaja menemukan sebuah sloka di Wrhaspati Tattwa, tepatnya sloka 16.

Wrhaspati Tattwa
Apakah itu Wrhaspati Tattwa? Dari berbagai sumber yang saya telusuri, Wrhaspati Tattwa adalah jenis lontar yang tergolong tua usianya. Lontar ini menguraikan ajaran tentang kebenaran tertinggi yang bersifat Siwastik yang diuraikan secara sistematik. Wrhaspati Tattwa terdiri dari 74 pasal/sloka yang menggunakan bahasa Sansekerta dan Bahasa Jawa Kuno. Bahasa Sansekerta disusun dalam bentuk sloka dan bahasa Jawa Kuno disusun dalam bentuk bebas (Gancaran) yang dimaksudkan sebagai terjemahan atau penjelasan bahasa Sansekertanya. Lontar Wrhaspati Tattwamerupakan sebuah lontar mengandung ajaran samkya dan yoga. Bagian yang mengajarkan pembentukan alam semesta beserta isinya mengikuti ajaransamkya dan bagian yang mengajarkan etika pengendalian diri mengambil ajaran yoga.

Secara etimologi Wrhaspati Tattwa berasal dari kata “Whraspati” dan “Tattwa”, pengertian Wrhaspati adalah nama seorang Bhagawan di sorga, hal ini sesuai dengan yang terdapat dalam Wrhaspati Tattwa Sloka 1 yang berbunyi sebagai berikut :

Irikang kala bana sira wiku ring swarga
Bhagawad Whraspati ngaran ira
Sira ta maso mapuja di Bhatara.

Terjemahan :
Pada saat itu ada seorang petapa di sorga bernama Wrhaspati,
Ia datang dan memuja Hyang Iswara

Sloka 16
Kembali kepada pembicaraan mengenai Sloka 16. Meski secara abstrak saya telah memahami jika bentuk yang berwujud merupakan pendefinisian dari ide yang dipikirkan, melalui Sloka ini kembali saya di "pecut" jika semua yang berbau emosionalistik manusiawi sesungguhnya pangkal pemicunya berada didalam pikiran. Kali ini mungkin Anda akan bingung dengan maksud Saya, dibawah ini akan saya buat perumpamaannya yang sederhana.

Namun syarat sebelumnya saya perumpamaan ini sebagian besar akan berhasil kepada laki - laki dan bersedia memasuki 'permainan' pikiran yang sedang saya buat. Yak, mari kita mulai. 

Nah, kini lupakanlah tulisan 'agak' serius diatas. Perhatikan foto diatas ini, perempuan cantik diatas tentunya idola kaum laki - laki. Kulit putih, langsing, wajah manis, body yang seksi untuk ukuran perempuan asia umumnya.

Perhatikan Foto Ini Selama 5 Detik

Jika Anda laki - laki, bayangkan lah perempuan diatas adalah orang yang Anda kenal. Anda begitu mengenalnya sampai - sampai untuk sedikit merayu dan bermanja - manja pada perempuan diatas bukan persoalan yang sulit.

Hingga, imajinasi Anda akan membawa perempuan diatas berada diatas ranjang Anda dan menindih badan Anda, menyenangkan bukan jika ada perempuan yang berkulit halus melekatkan seluruh tubuhnya diatas tubuh Anda tanpa ada pakaian yang membatasi?

Oke cukup. Kini saatnya Saya memberitahu kenyataan tentang kenyataan jika Perempuan diatas adalah laki - laki? Saya tidak bohong, bacalah berita yang dimuat dalam berita ini (Lookpad, Ladyboy Seksi dari Thailand).

Saya yakin hasrat yang telah terbangun runtuh seketika, tahu kenapa? Pikiranlah yang membangun hasrat Anda, ketika Anda mengarahkan pikiran Anda untuk membangun hasrat. Bagaimana jika Anda tidak memusatkan hasrat Anda pada foto tersebut? Tentu hasrat Anda tidak terbangun.

Mulai paham?

Selamat Nyepi Tahun 1937, kendalikanlah pikiran Anda dengan baik.

Jumat, 27 Februari 2015

Dongeng Upacara Kasada di Gunung Bromo



Dahulukala hiduplah satu keluarga yang tentram. Suami Istri tersebut bernama Ki Seger dan Nyi Anteng. Mereka berdua hidup rukun dan tidak pernah terlintas kemurungan maupun kesedihan sedikitpun dan sungguh merasakan nikmat dan rahmat dari Sang Pencipta.

Keadaan alam sekitar tempat tinggal mereka tersebut sangatlah menyenangkan, mereka berdua bekerja sama mengolah tanah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. Udara bersih, tanah subur, air sungai mengalir dengan bersihnya membuat hidup suami istri ini begitu damai. 

Hari demi hari berganti dan berlalu dengan cepat, sampai-sampai mereka lupa pada usia yang semakin tua namun belum memiliki seorang anak. Suatu hari, ketika kegiatan rutinitas sudah selesai dikerjakan mereka berdua duduk bersama dan bercakap-cakap tentang anak. Merekapun tidak tahu mengapa karena sampai se-usia ini mereka belum dikarunia seorang anak. Namun muncullah keinginan dari sepasang suami istri ini untuk bisa memiliki seorang anak. Maka dari itu akhirnya mereka menempuh jalan dengan cara bersemedi agar mendapatkan anak. Setiap hari mereka berdoa di kaki gunung Bromo karena mereka berdua percaya bahwa dengan berdoa tanpa tiada henti setiap hari pasti dikabulkan. 

Pada saat bertapa, Nyi Anteng mendengar suara bahwa kelak ia akan melahirkan dua puluh lima orang anak namun harus ada salah satu anaknya itu harus dikorbankan dan itu adalah anak sulungnya. Sempat terlihat kesedihan dari wajah Nyi Anteng ketika mendengar kalimat terakhir bahwa anak yang sulung harus menjadi korban nantinya. Namun karena keinginan itu begitu kuat maka syaratpun di iyakan yang penting mereka berdua bisa memiliki anak.

Waktu berjalan terus dan apa yang didengar waktu bersemedi itupun menjadi kenyataan. Nyi Anteng hamil. Terpancar cahaya bahagia dan senang karena anak yang didambakan akhirnya akan datang juga.

Setelah genap bulannya, Nyi Anteng melahirkan seorang anak laki-laki. Anak tersebut diberi nama Kusuma. Bayi tersebut tumbuh dengan cepat dan memiliki badan sehat dan wajah yang tampan. Sungguh mulialah pemberian Sang Pencipta itu. Mereka akhirnya mempunyai dua puluh lima orang anak dan membesarkan dengan penuh kasih sayang. Hidup mereka kini lebih penuh berwarna dan bahagia karena dengan kehadiran dua puluh lima anak itu sampai- sampai Nyi Anteng dan Ki Seger lupa akan janjinya.

Waktu terus berjalan dan meski lama tenggang waktunya namun janji tetaplah janji. Ada saatnya akan ditagih juga. Gunung Bromo mulai memberi tanda-tanda peringatan. Suara gunung Bromo bergemuruh, asap berkepul kepul. Nyi Anteng dan Ki Seger pun teringat akan janjinya. Perasaan sedih dan sesal meresahkan hati mereka. Bagaimana mungkin mereka tega melemparkan anak kesayangan ke kawah gunung Bromo? Mereka berdua berusaha menghilangkan perasaan sedih itu. Seandainya dapat diganti persembahan kepada dewa di gunung Bromo dengan dirinya dan bukan anaknya mereka rela mengorbankan diri mereka itu yang sudah tua namun hal itu tak akan mungkin terjadi karena Dewa menghendaki anak mereka yang sulung.

Dari hari ke hari Nyi Anteng semakin menderita tekanan batin karena harus menyerahkan anak sulungnya yang tampan dan yang paling di sayanginya. Sementara gunung Bromo semakin keras bereaksi terus. Letusan-letusan mulai terjadi, lelahan lahar pun begitu derasnya. Dan ketika malam itu juga Nyi Anteng bermimpi bahwa Dewa Brahma menagih janji, bila tidak di tepati kedua puluh lima anaknya sekaligus akan dimintai secara paksa. Selesai mendengar ucapan Dewa Brahma, terbangunlah Nyi Anteng dari tidurnya. Ia tidak dapat berbicara dan hanya menangis terus karena teringat akan mimpinya.

Kusuma anaknya yang sulung, sudah menginjak dewasa. Ia melihat ibunya sedih terus setiap harinya. Maka suatu hari Kusuma akhirnya memberanikan diri bertanya kepada Ibunya ”Ibu, mengapa ibu nampak sedih? Apakah saya boleh mengetahui sebab musababnya, Bu?" Jawab Nyi Anteng.

"Anakku, Kusuma! Ibu harus mengorbankan engkau di kawah gunung Bromo. Ibu tidak sampai hati untuk melemparkan dirimu, nak! Apabila tidak, semua saudara-saudaramu dan engkau akan diambil secara paksa oleh Dewa Brahma." Mendengar kata-kata ibunya, Kusuma tertegun diam seribu bahasa.

Hatinya sedih, namun kemudian ia pun berkata "Sudahlah Bu! Hilangkanlah perasaan sedih dihati itu. Saya bersedia menjadi korban demi Ayah dan Ibu, adik-adik serta keselamatan orang-orang Tengger pada umumnya. Saya rela menjadi korban Bu asalkan kalian bisa hidup damai dan bahagia."

Begitu terharu mendengar kata - kata anaknya itu hingga sang Ayah dan Ibunya jatuh pingsan. Namun pada hari yang telah ditentukan, dibawalah Kusuma ke kawah gunung Bromo. Ia diserahkan sebagai korban dilemparkan ke kawah gunung Bromo dengan disaksikan oleh orang-orang sekitar kaki gunung Bromo.

Kurban Kusuma oleh Nyi Anteng dan Ki Seger di terima oleh Dewa. Sejak peristiwa itulah gunung Bromo tidak lagi terdengar suara gemuruh dan tenang kembali seperti semula. Petani mulai mengerjakan sawah dengan tentram dan aman. Demikian juga dengan Nyi Anteng dan Ki seger hidup tenang dan damai bersama kedua puluh empat anaknya itu. 

Maka sampai kini masyarakat Tengger mengadakan upacara korban dibawah gunung Bromo untuk menghormati roh Kusuma dan itulah yang disebut dengan upacara KASADA. Namun yang dijadikan korban bukan lagi manusia melainkan berupa sesaji kepala kerbau dan hasil panen lainnya.

Kamis, 19 Februari 2015

Lukisan Keabadian, Jawaban dari Semua Pertanyaan

Lukisan Keabadian, Jawaban dari Semua Pertanyaan

Mungkin adakah yang bertanya - tanya, apakah itu "Lukisan Keabadian"? Hingga istilah tersebut dimuliakan menjadi nama domain website pribadi ini. Apakah hubungan saya dengan istilah tersebut? Apakah, "Lukisan Keabadian" menjadi personifikasi akan suatu kisah asmara yang lampau?

Barangkali itu pertanyaan - pertanyaan yang muncul dalam kepala yang mengenal saya. 

Ceritanya panjang.

Sekitar Awal tahun 2007 pada bulan yang saya lupa, sewaktu itu saya masih SMA kelas 3. Kelas 3 adalah masa - masa dimana kita mneyiapkan diri menghadapi UN untuk mendapatkan bangku di perguruan tinggi.

Saya digembleng dengan latihan UN waktu demi waktu, sampai pada latihan UN mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ada soal yang menanyakan suatu karya dari Kahlil Gibran (perlu diketahui, Kahlil Gibran adalah sastrawan yang saya gemari disaat SMA). Saat itu saya jatuh cinta dengan istilah "Lukisan keabadian", meskipun secara keseluruhan saya belum membaca karya Kahlil Gibran mengenai Lukisan Keabadian.

Malam ini penasaran akan cerita itu muncul lagi, bahkan dari dalam diri. Untungnya kali ini saya menemukan soal UN yang menginspirasi itu walau belum menemukan tulisan utuh Lukisan Keabadian dari Kahlil Gibran.

Senin, 02 Februari 2015

Apakah itu Kebenaran?


Hari jum'at lalu adalah hari yang biasa sebenarnya, setiap jum'at mahasiswa PNB seperti biasa pulang cepat dan kembali daerah masing-masing (untuk yang berasal dari luar daerah seperti saya). Hari itu saya dan kawan-kawan mendapat mata kuliah Metodologi Penelitian, meski kuliah telah berjalan beberapa minggu tapi untuk mata kuliah ini merupakan pertemuan pertama.

APA ITU KEBENARAN?

Mungkin saja kawan-kawan saya cukup syok dengan pertanyaan tersebut. Bukan tanpa alasan, sebagai mahasiswa yang kesehariannya berkubang dengan kode-kode program yang logis pertanyaan semacam itu sama saja dengan menanyakan kerbau tentang politik.

Sungguh sangat filsuf,

Tapi sangat ironi saya pikir. Sebuah pertanyaan yang sederhana, dekat dan sangat implementatif namun tak ada satu jawaban pun yang dapat membuat saya tertegun. Termasuk jawaban dari diri saya sendiri. Hingga sebelum libur galungan saya sempat lempar pertanyaan ini ke facebook, hasilnya? Memang jawabannya tidak sebanyak yang saya pikirkan karena pertanyaan ini terlihat gila. Tetapi kawan-kawan saya dari luar bali mampu memuaskan saya dengan jawaban mereka. Berikut jawaban dari mereka :

"Kbnaran artina gk salah xpp ^^v"

"sudut pandang yang diciptakan manusia.."

"Suatu proses pengembalian pengukuran tanpa memperhatikan ketelitian dan merupakan suatu standar yang telah disepakati bersama serta memiliki nilai tertentu"

"kebenaran adalah sesuatu yang tidak salah. ."

"Kewbenaran menurut klasifikasi di Hindu aada 4 macam. Empiris,Observasi, Analisa, dan kebenaran yang mutlak adalah Tuhan itu sendiri."

"Kebenaran itu ya kmu sendiri bro...klo dari hasil belajar q ma kmu dulu do Kuta katanya ada dari kita. aq ato kebenaran menurut kmu...tp bagi aq kebenaran itu ya kmu sendiri.....ah kmu tuh seriu trs..knp tanya kebenaran???dah gk laku bulan ma bintangnya..wkewekwekwewkewkekwekwekwweeee...PIzzzz"

Semua komentar diatas tidak mengalami perubahan. Karena saya menginginkan kemurnian, hehe.. At least, apapun makna kebenaran semua akan kembali kepada diri sendir dan sebuah kesepakatan kolektif..

Bagaimana dengan kalian?

Sabtu, 31 Januari 2015

Setelah Terkubur Lama



Ada yang bilang menulis adalah cara manusia menjaga pemikirannya. Mungkin karena tulisan menjadi bentuk material dari pemikiran. Setidaknya kata - kata yang terucap kadang tidak bisa disimpan. Kalaupun disimpan, tata cara penyimpanannya tidak akan semudah tulisan. Itu alasan kenapa saya membuka kembali blog yang telah lama terkubur. Terkubur bersama kegiatan mencari pengetahuan, kegagalannya : saya tidak menulisnya waktu itu.

Banyak yang berubah setelah usai pendidikan D3 di Politeknik Negeri Bali. Jaringan pertemanan, ruang analisa berpikir dan tentunya kepribadian yang semakin mengkilap. Bak keramik yang semakin dibakar dan diusap, seperti itulah kepribadian pada akhirnya. Tak terkecuali diri saya sendiri.

Kita lihat saja, apakah tulisan ini akan mengadili saya untuk tetap menulis, memperjuangkan kata - kata menjadi bentuk yang lebih nyata, yakni tindakan.

Doakan saja.

Sabtu, 03 Maret 2012

Perempuan, Bersepakatlah Jika Disebut Kasur atau Dapur!


Jika ada kata - kata yang menyatakan kalau perempuan itu fungsinya adalah di Kasur dan Dapur, aku sangat sepakat! Sungguh sangat sepakat! Lalu bagaimana apabila ada yang menyangkalnya? Harus kujelaskan, disini kalau pemahamanku terhadap 'Kasur' ataupun 'Dapur' tidak sesederhana pikiran moderen yang efektif - efisien (itupun bukan pernyataan kalau aku anti akan moderenitas).

Kasur, bagiku perempuan sama ajaibnya dengan kawah candradimuka dalam kisah pewayangan. Aku mengawali kekagumanku ketika liang peranakan perempuan itu tak hanya terlahir manusia - manusia yang sama sekali baru. Namun liang peranakan yang sama itu juga kelak akan melahirkan para pemimpin untuk manusia dalam mengelola keteraturannya sendiri. Bukankah proses itu terjadi diatas kasur!

Tidak berbeda dengan dapur, marilah kita lepaskan bayang - bayang tradisi kuno jika 'pekerjaan dapur' hanya berupa memasak untuk keluarga dan setelah masak, memberikan makan sang lelaki mendahului dan mereka sendiri? Menunggu sisa dan makan layaknya babu senilai daging di Pasar. Sembunyi - sembunyi dalam dapur! Jika pemahaman 'Dapur' semacam itu yang ada di bayangan semua kepala, akupun akan berteriak tidak sepakat. Menolak dengan tegas! Namun aku punya pemikiran sedikit berbeda. Pernahkah membayangkan rumah yang dapurnya tidak pernah mengepul? Tidak ada sekumpulan makanan di meja? Tidak ada suara piring keramik yang beradu dengan sendok aluminium? Tidak ada tawa diruang makan? Tidak ada nyawa dalam keluarga! Bukankah sama saja itu membangun rumah tanpa furnitur? Rumah hanya menjadi bangunan yang dingin dan kaku! Sungguh berbahayanya jika perempuan tidak berada dalam fungsi semacam itu!

Aku sendiri termasuk lelaki yang bersepakat dengan emansipasi yang mengikis habis pemujaan tradisional yang berujung pada penololan perempuan itu. Namun kesepakatanku hanya sampai jika perempuan itu malah melupakan fungsi dasarnya pada kedua hal itu : Dapur dan Kasur. Sekali lagi aku dapat berkata demikian karena aku termasuk laki - laki yang bersepakat bahwa keberadaban sebuah peradaban ditentukan oleh para perempuan dan para ibu yang melahirkan anak - anaknya diatas kasur dan mendidik anak - anaknya dari dapur yang mengepul tadi!

Kamis, 11 November 2010

Narsisme Perjuangan : Sebuah Akar yang Berbahaya


Hari itu memang saya ke Denpasar menggunakan Bis antar kota. Mengingat motor saya sudah dipinjam oleh sebuah teman. Hujan membasahi jendela bis yang tampak kusam, teringat dengan sam dalam posting sebelumnya.

Perjuangan adalah Penderitaan

Rasanya semua orang tahu, bahwa kita sesungguhnya mahluk yang tidak berbeda jauh dengan binatang. Binatang selalu menghindari rasa sakit, begitu pula kita. Binatang selalu mencari kenikmatan dunia begitu pula kita manusia. Memang kita memiliki pikiran sebagai 'tuas kontrol' namun pikiran manusia memang selalu menjadi hal yang tidak mudah untuk bicarakan.

Dalam cerita orang modern, tentu saja keduniawian menjadi kenikmatan tertinggi bagi manusia. Dimana panca indra begitu giat dirangsang, diberikan kenikmatan - kenikmatan dunia agar tetap terjaga dalam rasa nyaman dan jauh dari rasa sakit, sekali lagi kita memang mirip binatang memang. Namun muncul pertanyaan, apakah kenikmatan tersebut nyata adanya? Susah untuk menjawab sebagai manusia yang terlahir di jaman modern.

Nah, hal tersebut pula mulai terjadi dalam pola pergerakan Mahasiswa hari ini. Dimana - mana, tidak ada ceritanya kalau berjuang itu nikmat dari segi duniawi. Hal ini mungkin belum dipahami oleh aktivis pergerakan -termasuk saya. Perjuangan memang penuh dengan penderitaan, kita dituntut untuk mengkebiri beberapa kenikmatan keduniawian yang rasanya susah untuk ditinggalkan. Apabila tidak dipahami dengan perasaan tulus, maka seringkali makna perjuangan adalah penderitaan akan terkompensasi menjadi beberapa hal dan untuk golongan mahasiswa, kompensasi tersebut akan menjelma sebagai Eksistensi, suatu keadaan dimana kita akan ego dengan identitas kita sebagai mahasiswa. Dalam bahasa jalanan, seringkali saya sebut sebagai Narsisme Perjuangan.

Narsisme Perjuangan : Sebuah Akar yang Berbahaya
Lalu? mengapa Narsisme Perjuangan merupakan akar yang berbahaya? Sesungguhnya manusia merupakan mahluk yang menjunjung eksistensi -sekali lagi seperti binatang, seperti anjing yang selalu mengencingi daerah kekuasaannya. Jikalau narsisme perjuangan itu tidak diimbangi dengan sebuah kesadaran : ketulusan perjuangan. Maka adalah niscaya bahwa perjuangan hanya akan menjadi perjuangan kepentingan. Ya, setidaknya kepentingan terhadap rasa eksistensi individu tersebut dan itu akan menjadi akar dari penyakit perjuangan yang lainnya. Tentu saja itu berbahaya karena perjuangan yang ada hanyalah perjuangan onani, perjuangan semu yang tiada dapat menemukan apa - apa.

Untuk itu, sesungguhnya satu hal yang harus menjadi landasan berpikir adalah : Tulus, sebuah sifat yang susah ditemukan di jaman modern seperti hari ini.

Mari coba kita memulai hal dari sebuah ketulusan.

Bis pun tiba di ubung, sembari menunggu jemputan saya membeli roti rasa ayam.

Rabu, 16 Juni 2010

Melawan Kapitalisme : Perlawanan Yang Kesepian

"Lalu? Ketika kita memikirkan mereka. Apakah mereka juga pernah memikirkan kita?"

Pertanyaan spontan diutarakan seorang kawan dalam diskusi antar organisasi beberapa waktu lalu. Ya, saat itu memang kita tengah asyik membahas bagaimana kapitalisme telah merongrong segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Telah merongrong diri kita sendiri -termasuk saya-.