Sunday, October 23, 2011

Kisah Klasik Untuk Masa Depan Gemilang

“Sebuah kisah klasik untuk masa depan”
(Sheila On 7)

Mensitir petikan sebuah lagu dari Sheila On 7 (SO7) yang berjudul ‘Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan’ terasa teduh ditengah hingar bingar persiapan peringatan 83 Tahun Sumpah Pemuda 28 Oktober 2011 nanti. Mengapa tidak, didalam kegalauan mencari konsep seremoni, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa banyak diantara kita kaum pemuda malah hilang ingatan bagaimana terjadinya Sumpah Pemuda 28 Oktober 2011. Barangkali sebagian pemuda tidak mau peduli mengenai sejarah sumpah pemuda 28 Oktober, namun janganlah marah jika nanti kita malah disebut sebagai lost generation.

Apabila kita merasa risih dengan sebutan demikian, pernahkah kita sejenak merenung dan bertanya. Mengapa muncul sebuah label baru dalam masyarakat muda kita? Lalu bagaimana cara menghilangkannya? Yang jelas, munculnya label baru itu bukan tanpa sebab. Fenomena tawuran antar pemuda, autis teknologi dan terpecah – pecahnya konsentrasi pemuda pada banyak hal yang tidak penting merupakan dasar mengapa istilah Lost Generation muncul. Sebuah istilah yang mengidentifikasikan bagaimana sesungguhnya masyarakat muda Indonesia ‘hilang ingatan’ terhadap kepemudaannya dan peran dirinya dalam sebuah negara beranama Indonesia.

Hilang ingatan ini juga bukan tanpa sebab, kerancuan sejarah yang terombang ambing dalam ombak waktu turut membuat banyak orang gerah, barangkali ini cikal bakal meredupnya keingintahuan kita terhadap sejarah, terutama sejarah momen penting sepenting Sumpah Pemuda 28 Oktober. Lantas, masihkah kita terdiam membiarkan kaum pemuda dihina dalam kehilangan ingatannya?

Pertanyaan sederhana itu pastilah diawali lagi dengan pertanyaan lanjut yang lebih sederhana : Darimanakah kita memulai? Ya, jika memulai sebuah pemahaman terasa sulit maka pahami lah sejarahnya. Sama dengan halnya Sumpah Pemuda, jika kesulitan memahami maksud dan tujuannya maka pahamilah sejarahnya, bacalah sejarahnya dan dengarkanlah bagaimana semangat Sumpah Pemuda ketika itu sangat bergelora, bagaikan petir yang menggelegar membelah angkasa. Dan percayalah, tidak peduli apakah kita mahasiswa dengan disiplin ilmu sosial maupun sains memahami sejarah akan sama artinya dengan menciptakan masa depan Bangsa yang gemilang karena di dalam sejarahlah kita dapat belajar dan tidak terjerembab pada kesalahan yang sama. Mungkin itu yang dimaksud dalam penggalan lagu yang dinyanyikan oleh SO7 diatas.

Wednesday, November 10, 2010

Narsisme Perjuangan : Sebuah Akar yang Berbahaya

Hari itu memang saya ke Denpasar menggunakan Bis antar kota. Mengingat motor saya sudah dipinjam oleh sebuah teman. Hujan membasahi jendela bis yang tampak kusam, teringat dengan sam dalam posting sebelumnya.

Perjuangan adalah Penderitaan

Rasanya semua orang tahu, bahwa kita sesungguhnya mahluk yang tidak berbeda jauh dengan binatang. Binatang selalu menghindari rasa sakit, begitu pula kita. Binatang selalu mencari kenikmatan dunia begitu pula kita manusia. Memang kita memiliki pikiran sebagai 'tuas kontrol' namun pikiran manusia memang selalu menjadi hal yang tidak mudah untuk bicarakan.

Dalam cerita orang modern, tentu saja keduniawian menjadi kenikmatan tertinggi bagi manusia. Dimana panca indra begitu giat dirangsang, diberikan kenikmatan - kenikmatan dunia agar tetap terjaga dalam rasa nyaman dan jauh dari rasa sakit, sekali lagi kita memang mirip binatang memang. Namun muncul pertanyaan, apakah kenikmatan tersebut nyata adanya? Susah untuk menjawab sebagai manusia yang terlahir di jaman modern.

Nah, hal tersebut pula mulai terjadi dalam pola pergerakan Mahasiswa hari ini. Dimana - mana, tidak ada ceritanya kalau berjuang itu nikmat dari segi duniawi. Hal ini mungkin belum dipahami oleh aktivis pergerakan -termasuk saya. Perjuangan memang penuh dengan penderitaan, kita dituntut untuk mengkebiri beberapa kenikmatan keduniawian yang rasanya susah untuk ditinggalkan. Apabila tidak dipahami dengan perasaan tulus, maka seringkali makna perjuangan adalah penderitaan akan terkompensasi menjadi beberapa hal dan untuk golongan mahasiswa, kompensasi tersebut akan menjelma sebagai Eksistensi, suatu keadaan dimana kita akan ego dengan identitas kita sebagai mahasiswa. Dalam bahasa jalanan, seringkali saya sebut sebagai Narsisme Perjuangan.

Narsisme Perjuangan : Sebuah Akar yang Berbahaya
Lalu? mengapa Narsisme Perjuangan merupakan akar yang berbahaya? Sesungguhnya manusia merupakan mahluk yang menjunjung eksistensi -sekali lagi seperti binatang, seperti anjing yang selalu mengencingi daerah kekuasaannya. Jikalau narsisme perjuangan itu tidak diimbangi dengan sebuah kesadaran : ketulusan perjuangan. Maka adalah niscaya bahwa perjuangan hanya akan menjadi perjuangan kepentingan. Ya, setidaknya kepentingan terhadap rasa eksistensi individu tersebut dan itu akan menjadi akar dari penyakit perjuangan yang lainnya. Tentu saja itu berbahaya karena perjuangan yang ada hanyalah perjuangan onani, perjuangan semu yang tiada dapat menemukan apa - apa.

Untuk itu, sesungguhnya satu hal yang harus menjadi landasan berpikir adalah : Tulus, sebuah sifat yang susah ditemukan di jaman modern seperti hari ini.

Mari coba kita memulai hal dari sebuah ketulusan.

Bis pun tiba di ubung, sembari menunggu jemputan saya membeli roti rasa ayam.

Thursday, November 4, 2010

Kekecewaan Pejuang terhadap Idealismenya

Blog ini memang angin - anginan, rasanya sudah hampir lupa jikalau saya mempunyai senuah blog. Ada banyak hal yang menarik belakangan ini, salah satunya ketika saya memulai perdebataan mengenai idealisme seorang mahasiswa kepada seorang 'mantan' mahasiswa. Sebut saja namanya Sam.

Kekecewaan Pejuang terhadap Idealismenya
Sore itu, ketika hujan deras mendadak menerpa Jakarta Selatan. Sembari tergopoh - gopoh kami mencari tempat cetak foto -kami lupa membawa pas foto pada acara nasional di Jakarta. Perdebatan sebenarnya sudah kami mulai sejak dari dalam pesawat. Sam, seorang pekerja di salah satu Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di kota Denpasar bercerita bahwa ia pernah memiliki jiwa idealisme yang sama seperti saya. Namun, semua menjadi berubah ketika ia menjadi 'budak uang' di dalam bekerja.

Rasa ego atas idealisme diri sudah tentu berang ketika dengan mudahnya idealisme itu de 'mentah'kan begitu saja. Beranggapan bahwa menjadi ideal adalah sesuatu yang bodoh di jaman ini adalah salah satu alasan mengapa ia justru menjadi pengkhianat atas sejarahnya sendiri.

"Aku telah melewati jamanmu kupikir semua hanyalah omong kosong belaka, kita tidak akan pernah menemukan sesuatu yang ideal itu.."

Saya mencoba mencerna dalam - dalam, seperti postingan sebelumnya menjadi idealis di jaman serba moderen sudah barang tentu adalah hal yang 'tampak' konyol.. Kita akan menjadi berbeda dengan orang kebanyakan, menjadi alien.

Saya diam, memandang langit yang sudah reda akan hujan. Sam pun ikut diam. Kami seolah tidak menemukan titik temu karena kami memang berbeda. Yang saya tahu menjaga idealisme itu harus mampu menjaga diri atas hasrat duniawian. Tempat bekerja dan tempat bergaul memang tempat yang rawan untuk idealisme, terjaga atau tidaknya memang tergantung pilihan kita.

"Yang saya tahu, saya dalam upaya - upaya menjaga idealisme. Dunia memang tempat tidak nyaman untuk jiwa yang idealis, saya akan coba. Saya pasti berhasil. Setidaknya menjaga idealisme hingga pada waktunya diperlukan"

Saya senyum tanggung dengan ujung bibir kanan sedikit naik. Saya tidak berusaha menjadi 'lawan' atas kekecewaan terhadap idealismenya. Kami pun memahami, jika kami berada di tempat bersebrangan namun tidak harus saling berhadapan. Hujan sudah reda. Kami segera berangkat menuju hotel.

Tuesday, June 15, 2010

Melawan Kapitalisme : Perlawanan Yang Kesepian

"Lalu? Ketika kita memikirkan mereka. Apakah mereka juga pernah memikirkan kita?"

Pertanyaan spontan diutarakan seorang kawan dalam diskusi antar organisasi beberapa waktu lalu. Ya, saat itu memang kita tengah asyik membahas bagaimana kapitalisme telah merongrong segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Telah merongrong diri kita sendiri -termasuk saya-.

Pengertian sederhananya, kapitalisme merupakan sebuah ideologi yang menjadikan modal (baca : uang) menjadi kekuatan terbesar, dimana aspek-aspek sosial dikesampingkan serta aspek-aspek individualisme, egosentrisme, liberalisme menjadi buahnya yang berkelanjutan. Kalau dilihat dari permukaan kapitalisme sangat "nyaman". Bayangkan, dengan kapital (baca : uang) kita dapat mendapatkan apapun yang dijual dipasaran, kita dapat menikmati teknologi yang tercanggih sekalipun karena kita dapat membelinya dengan uang (baca : kapital).

Itu kemudian mengapa kondisi hari ini, kapitalisme begitu mengakar dan menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia yang jelas-jelas menganut paham Pancasila yang didalamnya terdapat sosialisme. Tidak heran memang, karena kapitalisme tumbuh dari sifat-sifat dasar manusia. Manusia adalah mahluk paling banyak keinginan, manusia adalah mahluk yang ego dan manusia pulalah mahluk yang sangat mementingkan diri sendiri. Dan itu wajar.

Maka dari itu Karl Marx mencoba membuat paham baru yang berguna untuk mengekang "kewajaran" dalam diri manusia tersebut. Marxisme, adalah sosialisme ala Marx yang kemudian seringkali menjadi inspirasi para sosialis di Dunia. Di dalam kehidupannya kita tahu, kehidpan Marx tidaklah kaya, tidaklah banyak orang yang menyanjungnya pada saat itu, saat dimana kapitalisme juga tumbuh sebagai ideologi yang besar. Ketika saya membaca bukunya, membaca semua kisah tentang kehidupannya, saya menemukan marx terkadang sangat kesepian luar biasa, karena harus menjadi ber"beda" dari ke"wajaran" yang ada. Namun dia pasti sudah dapat memahami, untuk melawan sistem besar yang sedang berkembang, salah satu konsekuensinya adalah menjadi berbeda dan seringkali dikucilkan oleh mayoritas.

Hal tersebut juga seringkali saya rasakan ketika kapitalisme menjadi lawan dari ideologi saya marhaenisme (baca : Marxisme ala Indonesia), melihat banyak kawan-kawan yang terjerembab dalam buah-buah kapitalisme, bersanding dengan kawan-kawan yang memiliki gaya hidup yang berakar kapitalisme tentu tidaklah mudah dan pertanyaan diatas yang mengawali tulisan ini menjadi pertanyaan yang sering kali harus dijawab oleh diri kita sendiri.

"Lalu? Ketika kita memikirkan mereka. Apakah mereka juga pernah memikirkan kita?"

"Mungkin saja benar. Tetapi kalau bukan kita, tidak ada lagi yang akan menghadapi kapitalisme di Dunia ini nantinya".
Saya menjawab, meski sekedar dari dalam hati.

Thursday, May 20, 2010

Idealis = Gengsi?


Ternyata sudah cukup lama saya tidak posti di dalam Blog ini, namun saya tidak perlu meminta maaf kepada siapapun. Seperti apa yang di tuliskan di atas banner blog ini, Blog ini hanyalah catatan kecil dari penemuan sehari-hari.

Setelah sekitar sebulan setelah menjabat menjadi seorang ketua di Cabang Gmni Denpasar sesuatu yang saya sebut Ideologi semakin saya pahami, semakin paham semakin fanatik dan semakin Idealis. Apapun ideologinya, seorang idealis adalah seorang yang (mungkin dapat disebut) orang yang keras kepala dan berpendirian teguh. Tidak mencoba untuk memuji diri namun saya mungki tergolong manusia yang memiliki (sedikit) jiwa idealis. Beberapa tahun memang saya mencoba menjadi sosok yang seperti demikian, karena menurut saya Idealis adalah manusia yang "jelas" memiliki spesifikasi yang kentara dibanding yang lain meski pahamnya dilarang dan kuno, disitu entry point yang saya maksud.

Meski demikian menjadi idealis ibarat menjaga gengsi. Ya, memiliki gengsi harus banyak-banyak berkorban. Katakan saja kita memiliki gengsi kelas "atas". Kita harus siap merogoh duit untuk "kebutuhan" meski statistik keuangan tidak berpihak sekali pun. Begitu juga mengenai Idealis, apabila tidak ya tidak, kalau ya pasti sudah berkata ya!

Saya sempat mengatakan, "Jangan pernah mengeluh!" dan resikonya adalah saya harus tidak "pernah mengeluh". Ah, setelah dipikir-pikir ternyata mengeluh itu adalah karakteristik alamiah manusia. Sama seperti "marah" dan "egois".

Susah memang.

Monday, February 15, 2010

Mau Jadi Apa?

MAU JADI APA?


Pertanyaan ini seringkali menjadi bahan perenungan saya. Entah dijalan, entah di tempat tidur ataupun di kampus. Terlebih lagi usia perkuliahan sudah memasuki fase PKL (Praktek Kerja Lapangan) dimana setidaknya kuliah 80% telah dilalui. Semakin berumur semakin banyak yang harus dipikirkan. Setelah lulus kemana? Kerja dimana? Mau jadi apa? Terlalu banyak pertanyaan terkadang membuat saya depresi sendiri. Rancana hidup memang sudah saya buat sejak dulu. Lulus D3, lanjut ke S1, lanjut ke S2/Kerja, serta melanjutkan keturunan. Namun setelah dipikirkan justru yang ada malah semakin menakutkan, takut akan plan A tidak terjadi.


...


Ah, let it flow sajalah..

Saturday, February 6, 2010

"100 Hari" Itu..

28 Januari 2010, ini adalah cerita lama yang baru ada niat untuk menulisnya sekarang. Tanggal tersebut tepat 100 kerja Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Berhubung saya sudah tidak ada perkuliahan di dalam gedung. Jadi saya hendak jalan-jalan serta hunting foto di denpasar. Pagi itu saya memang mendengar informasi bahwa akan ada gerakan massa yang cukup massif di jantung kota Denpasar. Menggunakan sepeda motor dan sebuah kamera SLR saya bergegas menuju lokasi.





Pada intinya saya mendapatkan momen yang menarik, banyak foto yang lumayan bagus saya dapatkan meski yang terupload di facebook hanya satu buah. Namun foto yang saya upload mengundang diskusi pelik mengenai pola gerakan pemuda jaman sekarang.





Kalau boleh saya simpulkan ada 2 kubu yang saling menarik di dalam komentar tersebut. Kubu pertama adalah pihak yang bergerak masif yang mendukung gerakan aksi massa seperti demonstrasi yang bersifat ekstra parlemen (parlemen jalanan) kemudian ada kubu yang merupakan antitesa dari kubu pertama, yaitu kubu apatis. Satu pernyataan sikap yang masih saya belum bisa terima adalah "mari terus berkarya tanpa harus memperhatikan politik". Mengapa harus begitu antipati? Apakah karena kekalahan kita terhadap oknum-oknum yang berhasil membuat imej politik menjadi buruk? Atau memang kita lebih peduli dengan menyelamatkan diri sendiri sembari terus berkarya? Saya yakin ketika langkah kebijakan politis sudah memasuki ranah "berkarya" mereka. Mereka akan beringas karena ketentraman "individualistik" mereka di injak-injak. Kalau saya lihat ini tidak lebih dari kelemahan kita memahami situasi nyata hingga kit terkadang harus bersembunyi ketakutan dengan perisai mari-terus-berkarya-tanpa-harus-memperhatikan-politik. Saya benci mengatakan kenyataan yang pahit ini. Saya benci harus mengatakan bahwa tidak banyak orang yang mampu memahami politik sebagai sebuah seni. Ini menyedihkan memang.

Lalu? Apakah saya menjadi hebat, setelah menuliskan kata-kata dan kekecewaan ini?

Ini hanya kegelisahan saja kawan, risalah hati yang masih ingin bangsanya berdiri seperti bangsa lainnya...

Sunday, January 24, 2010

Sebuah cerita Blue Jeans dan Para Dokter Masa Depan

Ada yang menarik dari perdebatan 17 Januari 2010 di warung sebelah SMA 3 Denpasar. Sungguh kerinduan panjang yang menghasilkan sebuah perdebatan yang sangat memanjakan idealisme saya.

Berawal dari kumpul-kumpul karena memperingati hari ulang tahun SMA 3 Denpasar. Kita mengawali ngobrol di pagi itu dengan curhat seorang kawan dari PS. Ilmu Kesehatan Masyarakat yang ujung-ujungnya "merger" dengan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK UNUD) meski sempat diakui sebagai fakultas sebelumnya. Keluh kesah itu berawal dari pembicaran bersama mengenai aturan tata tertib di FK UNUD sebagai bentuk komitmen bersama untuk saling berangkulan satu sama lain.

Namun ada yang salah?

"YA!"


Saya tulis dengan huruf kapital dan tebal. terdapat poin dari pasal yang saya pikir tidak substantif, hanya tertahan pada pencitraan saja. Aturannya kurang lebih begini :

"Proses Perkuliahan Tidak Boleh menggunakan Blue Jeans"
Apakah menurut anda ada yang salah? Menurut saya ini menggelikan. Apa hubungannya proses perkuliahan dengan blue jeans? Apakah ini telah melanggar secara prinsip arti "bebas-rapi" yang sering diucapkan? Saya kemudian bertanya kepada kawan saya tersebut apa pemikiran dasar dari aturan yang saya sebut menggelikan itu.

"Blue Jeans dianggap tidak profesional karena identik dengan petani di amerika"

Ini semakin menggelikan,

Itu mengapa terkadang saya kurang merasa respect terhadap beliau-beliau yang kuliah di sana. Ini bukan karena saya iri terhadap mereka, kalaupun diberikan pilihan sayapun tidak akan memilih kuliah di sana. Karena kepala saya tidak ingin dicekoki dengan doktrin-doktrin pencitraan yang semu seperti itu.

Lantas? Dimana letak pengabdian masyarakat mereka sebagai mahasiswa kalau ber-Blue Jeans dilarang sebagai sesuatu yang "rendah"? Meminjam istilah para aktivis, mereka lebih baik disebut degan PILAR GADING. Saya tebalkan lagi istilah itu. Mereka INDAH, mereka BERSINAR dan mereka ibarat MIMPI. Namun JAUH dan TIDAK MEMBUMI, disaat para aktivis menkampanyekan "down to earth" mereka memilih larut dan berlindung dari segala pencitraan yang indah itu.

Ini menyedihkan, saya merasa kasihan.

Hanya satu hal yang saya dapat berharap. Semoga mereka sadar, Blue Jeans saya lebih mahal dari pada celana kain mereka.

Tuesday, January 5, 2010

SIDANG PBB Di bungkam Oleh Anak Usia 12 Tahun

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki, seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children's Organization ( ECO ).
ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak" lain mengenai masalah lingkungan. Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka.
Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber: The Collage Foundation)


Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi.

Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja. Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang. Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar. Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar. Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara. Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya. Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang? Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita. Anda tidak tahu bagaimana cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya. Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah. Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak
tahu bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi, dan anda semua adalah anak dari seseorang. Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut. Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama. Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi. Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi. Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: "Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang " .

Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah? Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India. Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini. Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan, " Semuanya akan baik-baik saja , 'kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya." Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, "Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu". Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut. Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

***********
Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konperensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu. Dan setelah itu, ketua PBB mengatakan dalam pidatonya: "Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan isinya disekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun, yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato. Sedangkan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh asisten saya kemarin. Saya ? tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun "
???? ??? ??? ??? ??? ???
??? ??? ??

Tuesday, December 29, 2009

Cuci Gudang

Baiklah, maafkan saya karena jarang posting meski sudah terlepas menjadi "pelayan mahasiswa" tetap saja tidak dapat memposting pemikiran-pemikiran yang saya yakin banyak. Berikut adalah cuci gudang stok foto saya sebelum akhir tahun. Silakan dinikmati ..



Sunset at Benoa



"Bosan"



Boat & Rol



Nung-Nung



Old Across