Minggu, 29 Mei 2016

Payas Bali Syariah : Haruskah Kita Marah?


"Mohon klarifikasi dari pihak Salon Agung, tentang maksud dan tujuan membiarkan pakem dan tatanan berbusana Bali dicampuradukkan dengan budaya luar. Ibu Agung yang tahu lebih banyak bagaimana menjaga Bali ini dengan menjaga nilai-nilai budaya itu tak terdistorsi oleh kerancuan yang tak sesuai dengan norma berbusana Bali." 
(tulisan tersebut diambil dari Akun Facebook Puskor Hindunesia) 

Belakangan, isu ketidak-Bhinneka-an mulai bertebaran layaknya jamur di musim hujan. Barangkali isu pecah belah ini punya latar ekonomi bahkan hingga politik, Namun yang jelas kejiwaan kita sebagai Indonesia sedang sakit.

Denpasar sebagai Kota Paling Islami
Setelah diberi stampel Denpasar sebagai kota yang paling Islami menurut Hasil penelitian yang dilakukan oleh Maarif Institute tentang Indeks Kota Islami (IKI) pada awal Januari 2014 hingga Maret 2016. Denpasar merupakan kota paling Islami jika diukur dari tingkat keamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan warganya.

Sebagian warga Bali yang beragama Hindu (dengan rincian persentasi 84,5% beragama Hindu dengan 13,3% beragama Islam, Kristen dan Katolik sebesar 1,7% dan Agama Budha 0,5%, Sumber) menjawab dengan berbagai reaksi, di permukaan warga Bali yang beragama Hindu menanggapinya dengan rekasioner cenderung marah dengan predikat Denpasar sebagai kota paling Islami,

"Nah, Telahang be Bali dadi syariah!"
(Habiskan sekalian Bali menjadi syariah -terjemahannya)

Begitu yang saya selentingan pernah dengar dari salah satu postingan di Facebook.

Namun saya lebih menyukai pemikiran sebagian warga Bali yang lain, pemikiran yang cenderung analitik, kritik dan lebih mengedepankan rasionalitas. Pemikiran tersebut kurang lebih mengajak warga Bali untuk semakin mempertahankan Budaya dan Agama yang diwariskan oleh leluhur, karena telah teruji dan terbukti bahkan ketika Denpasar dijadikan sebagai Kota yang paling Islami dengan indikator dari segi keamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan warganya. Hal tersebut berarti bahwa apa yang diwariskan oleh leluhur dalam bentuk Agama dan Budaya senantiasa mengedepankan keamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan dari setiap umatnya.

Hanya saja kritik atas penelitian tersebut adalah tidak disampaikan pula kenapa Bali yang mayoritas beragama Hindu justru menyandang predikat paling Islami. Seandainya ditambahkan dengan sedikit kalimat "Bali yang mayoritas merupakan Agama Hindu, ternyata dari segi keamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan warganya telah sesuai dengan standar Islami", tentu saja lebih bisa diterima dengan baik penelitian tersebut. Karena lebih ditegaskan, jika keamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan merupakan tujuan dari semua Agama dan Kepercayaan.

Payas Bali Syariah : Haruskah Kita Marah?
Perlukah kita marah setelah payas Bali versi syariah marak di media sosial? Saya sendiri menjawab tidak perlu marah dengan mencaci dan memaki. Kita tidak perlu bersikap seperti FPI (Front Pembela Islam) yang akan memporak porandakan warung nasi di Bulan Puasa sambil meneriakkan kata - kata suci, kita juga tidak dibenarkan oleh tradisi untuk mengkritik orang lain tanpa terlebih dahulu melihat diri sendiri seperti dalam pepatah Depang Anake Ngadanin.

Lalu bagaimana sebaiknya kita bersikap tentang Payas Bali Syariah? Sebelum menjawabnya kita lihat salah satu komentar dibawah ini 


Setelah kita membaca komentar diatas, maka harus muncul pertanyaan dari diri sendiri seperti :
  1. Sudahkah kita membuat Pajegan dengan hasil alam sendiri? (Setidaknya jika tidak menanam buah sendiri berbelanjalah di Petani Bali yang pasti mendoakan tanamannya di Rahina Tumpek Uduh)
  2. Sudahkah kita mengkonsumsi daging dari Peternak kita sendiri? (Karena Peternak kita pasti melakukan proses mendoakan ternak di Rahina Tumpek Kandang)
  3. Sudahkah kita mengajarkan anak - anak kita Budaya Bali? (Seperti Bahasa Bali sederhana sekalipun, metanding minimal canang, dll)
  4. Silahkan tambah sendiri
Mari kita acuhkan pertanyaan diatas karena dipakai untuk renungan sendiri, kembali pada pertanyaan Payas Bali Syariah : Haruskah Kita Marah? saya jawab iya kita harus marah, tetapi energi kemarahan saya lebih baik difokuskan untuk melanjutkan api tradisi ini kepada keturunan berikutnya, energi kemarahan tersebut lebih baik difokuskan untuk membaca, berdiskusi serta melaksanakan nilai - nilai ajaran dari leluhur dari Budaya yang adiluhung dan teruji bahkan mereka yang berjilbab pun ingin tampil seperti orang Bali dengan Budayanya.

Mari kita pertahankan kemurnian dari nilai - nilai Budaya yang kita warisi ini karena saya percaya seperti kata Sukarno, yang tak murni akan terbakar mati.

Kalianget,
29 Mei 2016

0 komentar:

Posting Komentar