Rabu, 29 Juli 2009

Alasan saya takut menjadi tua dan dewasa

Sebenarnya ketakutan ini dipicu oleh seorang aktivis mahasiswa dalam periode reformasi. Soe Hok Gie, aktivis berdarah tiong hoa memang takut untuk menjadi tua dan begitu sangat menghormati setiap orang yang mati muda. Bukan karena tua dan dewasa kulit dan tubuh akan menjadi rusak. Lebih dari itu, sesuatu yang sangat berharga dimiliki seorang aktivis akan hilang. Idealisme.

Ya, memang seiring bertambahnya usia. Manusia pada akhirnya akan kembali begitu mementingkan diri sendiri. Apalagi setelah berkeluarga dan mempunyai anak. Pragmatisme dan tindakan apatis memang kerap kali muncul. Tidak salah memang memang. Tapi dilihat dari kacamata idealisme seorang mahasiswa sekarang melihat hal tersebut tak lebih dari tindakan pengecut dan meludah kearah muka sendiri. Sekali lagi, saya takut untuk menjadi seperti itu. Menjadi tua dan dewasa.

Senin, 06 Juli 2009

8 Juli dan Percakapan Urban

Siang itu sepulang kuliah, tak sengaja saya terhenti di sebuah jalan menuju perpustakaan kampus. Niatnya minum obat karena beberapa hari ini kondisi badan saya memang sedang tidak enak. Disaat yang bersamaan, sebuah sudut ruangan Prasarana Kampus terdengar perbincangan urban.

“Prabowo saya tidak yakin memimpin dia belum pernah berada dalam sistem pemerintahan sebelumnya!”, tegas seorang pria. Beberapa temannya termangut-mangut menatap dan ikut ambil bagian dalam diskusi.

Well,itu hanya salah satu dari sejuta percakapan rakyat yang yang menginginkan perubahan. Mulai dari kalangan “kaki” hingga “kepala” menjadikan Pilpres 2009 menjadi topic yang panas! Sungguh sangat seksi! Saya sendiri bergidik membayangkan Pilpres tahun ini.

Bukan tanpa alasan, bergidik saya selalu didasari. Secara pribadi saya memang menilai tidak ada yang PANTAS menjadi “nahkoda” kapal bangsa ini sepanjang 2009-2014. Masing-masing calon tidak punya karakter yang Pancasilais! Serta Nasionalis, yang memegang teguh kesatuan bangsa. Kalaupun “terdengar” ada, itu tak lebih dari sekedar jargon politik yang rakyat sudah jemu menelannya.

Ini beberapa penilaian pribadi saya terhadap calon Presiden kita yang terhormat :

Calon 1 :
Calon ini pernah memerintah Bangsa Indonesia sebelumnya, bisa dibilang pasangan ini memiliki visi dan misi politik yang sangat bagus. Mengusung ekonomi kerakyatan dan berpihak pada rakyat kecil dan petani membuat saya cukup simpatik. Namun ada satu celah yang saya ragukan, karakteristik Capres begitu mengecewakan. Rata-rata apa yang dikatakan lebih terdengar ceplas-ceplos dan tidak realistis. Meski gerbongnya saya tahu bernafaskan nasionalis? Tapi tetap saja intelektualitas pemimpin harus dominan, bukan saatnya sekarang pemimpin itu dadakan. Untuk Cawapres sendiri, iklan partai beliau begitu “menggelitik” sentiment aktivis saya. Seorang aktivis harus selalu membela rakyat dan itu adalah harga mati! Akan tetapi sejarah kelam dan peta politiknya begitu kacau. Setelah menghilang ke yordania karena kasus HAM, beliau datang kembali langsung ingin memimpin negeri. PERTANYAAN besar ada pada saya untuk Cawapres ini.

Calon 2 :
Merupakan calon yang Incumbent, di jagokan menang didasarkan Pileg lalu membuat Capres nomer 2 menjadi terlihat arogan. Selama pemerintahannya memang terdengar sangat bagus dengan iklan yang menunjukkan statistic perkembangan bangsa ke arah positif. Namun, pola pemerintahan Capres dengan jargon “Lanjutlan!” ini lebih pro dengan kaum liberalis. Kaum yang senyatanya merupakan oposisi dari paham kita, demokrasi Pancasila. beberapa kasus kedaulatan bangsa terekam buruk dalam pemerintahan beliau. Bangsa kita kehilangan banyak pulau, dan kepala kita selalu tertunduk oleh bangsa asing. Beliau terlalu berhati-hati. Satu hal yang saya paling takutkan, kader dibawahnya akan merongrong beliau selama pemerintahannya dikemudian hari (kalau terpilih kembali). Cawapres nomer urut ini juga fenomenal. Setelah kemunculannya tanpa gerbong apapun dan isu ia menganut paham Neolib termasuk hingga isu berbau SARA menyerang keluarganya. Untuk Cawapres ini, saya belum bisa berkomentar banyak.

Calon 3 :
Sebelumnya Capres nomer 3 ini memang belum pernah memimpin bangsa sebagai presiden. Tapi, rekam jejaknya selama kemahasiswaan begitu menakutkan. Beberapa kali pasangan ini menebar isu SARA yang sangat tidak elegan. Hal tersebut sugguh meresahkan sentiment nasionalis saya. Cawapresnya merupakan pelaku yang mirip dengan Cawapres nomer urut 1. Cawapres ini juga beberapa kali sempat terjebak dalam kasus HAM dari perjalanan sejarah bangsa ini. Pasangan ini sangat condong ke “kanan”. Bukan “tengah” apa yang kita inginkan bersama.

Namun apapun itu, semua penilaian diatas hanyalah penilaian yang sangat subjektif. Saya sendiri sangat bingung. Takut salah mengambil keputusan dalam mengarahkan bangsa ini melalui Pilpres. Jangan kan untuk memilih “siapa”. Untuk “memilih” atau “golput” pun saya masih bingung. Liat saja nanti apa yang terjadi. MERDEKA!!

(Perpustakaan-PNB)

Rabu, 01 Juli 2009

Cinta adalah Detik Ini

"Aku tidak pernah tahu arti cinta sesungguhnya.

Karena yang kutahu bahwa cinta adalah detik ini.

Sedetik yang melintas diantar impresi keindahan dan mimpiku.

Ia jauh lebih indah bila dibanding dengan senyum, tangis maupun tawaku.

Sehari bisa kuhabiskan untuk menggambarkan betapa diriku terpesona dalam detik itu.

Detik dimana bidadari menari di atas pentas waktu.

Detik dimana seorang gembala wanita tersenyum

melihat domba-dombanya melahap rumput musim semi.

Sebuah detik dimana itu (yaitu detik) menjadi sayapku

dan terbang di ruang waktu dalam sedetik itu pula.

Kalau (aku) bisa takkan kubiarkan detik itu melepaskan pelukanku.

Tetap menempel dan terbang bersamaku, karena (kembali) jika aku bisa.

Akan kuabadikan detik itu menjadi sebuah lukisan keabadian.

Namun sialnya adalah detik itu adalah detik yang harus terganti.

Terganti karena kehidupan menghendakiku untuk tidak selalu tersenyum

dan menjadi kabut bersama detik lainnya.

Kabut yang menyelubungi segala sesuatu namun tidak pernah menyatu dengan mereka

karena kabut itu adalah bagian diriku yang menyendiri.

Kendati demikian, bagiku cinta tetap saja detik ini.

Detik dimana aku masih hidup dan dibingungkan oleh alur waktu

hingga detik terakhir mencabut nyawaku

dan memberitahu sebuah rahasia kehidupan (yaitu kematianku)

yang tak pernah kudapatkan dalam detik dimana aku hidup sebelumnya......"



At least, diatas adalah puisi saya ketika sedang asiknya berkubang dalam lumpur cinta. Hikz.. Leher saya sakit, sepertinya salah tidur...

(perpustakaan-pnb)