Rabu, 25 Maret 2015

Nyepi Dihujat di Media Sosial, Sakitnya tuh Disini

Nyepi Dihujat di Media Sosial, Sakitnya tuh Disini

Sebenarnya bukan barang baru. Hujatan di media sosial terhadap nyepi seingat saya terjadi tahun lalu, atau telah ada bertahun - tahun sebelumnya. Hanya saja saya tidak ngeh seperti sekarang terhadap isu hujat - menghujat maupun tentang media sosial.

Jujur saja, media sosial memang unik sekali. Kita bisa berkumpul dalam komunitas besar dan tanpa batas. Dalam sekejap bisa saja saya komentar terhadap pendapat Presiden Amerika Serikat, Obama di Facebook, Twitter atau media sosial lainnya. Namun, kadang media sosial bisa menjadi gregetan karena di puncak - puncak obrolan yang emosional kita hanya bisa menggunakan emoticon atau permainan tanda seru, tanda tanya ataupun huruf besar semua.

Hal - hal tersebutlah yang membuat saya secara pribadi santai - santai serius dalam hidup bermedia sosial. Santainya adalah jika ada komentar yang melukai perasaan kelompok atau golongan, maka ditanggapi dengan guyonan namun tetap dilaporkan kepada pihak yang berwajib di Facebook. Sisi seriusnya, adalah kalau update status atau nge-twit itu tidak seenak udel sendiri. Ibarat kita teriak ditempat umum, seperti itulah analoginya kalau kita meng-update status di media sosial.

Soal Nando (si penghujat Nyepi edisi 2015), saya menanggapinya agak berbeda. Mungkin kebanyakan dari kita (umat Hindu dan Masyarakat Bali pada khsususnya) akan marah dan menghujat kembali Nando karena telah menghina kesucian perayaan Hari Raya Nyepi, namun kemarahan saya bukan pada saat Nando (atau siapapun) yang menghina kesucian simbol - simbol keyakinan (Hindu) yang saya anut.

Mengapa? Bukannya saya menyepelekan makna kesucian dalam perayaan Nyepi. Namun, sebagai umat Hindu saya dididik untuk meyakini Panca Sradha. Salah satu unsur dari Panca Sradha adalah percaya akan adanya Karma Phala. Itulah alasan mengapa saya tidak ambil pusing terhadap penghujatan Hari Raya Nyepi, cukup dengan laporkan ke kepolisian dan hari - hari kita lalui kembali tanpa beban.

Namun, kemarahan saya kepada Nando adalah ketika hanya gara - gara dia tidak bisa menonton Arsenal dan kekesalan pribadinya dipublikasikan di media sosial. Sikap Nando tersebut telah menambah hancur keharmonisan kita sebagai Bangsa Indonesia yang berbeda - beda. Setelah kasus penghujatan oleh Nando, kacamata orang Bali memandang saudaranya dari suku, dan agama lain semakin menyempit.

Padahal saya yakin jika dikumpulkan, manusia yang berpikiran sesat seperti Nando hanya segelintir saja. Sahabat - sahabat saya dari suku dan agama lain pun mengeluh jika setelah kasus penghujatan oleh Nando mereka akan semakin di marginal kan di kampusnya.

Disitu kadang saya merasa sedih.

4 komentar:

  1. Di Bali terlalu ekstrem, melayang ketika dipuji, terbakar ketika dihina. Hakekat pertapaan (tapa brata) adalah netral dalam suka-duka, netral pujian-hinaan.

    Coba dia tinggal di kalangan mayoritas muslim, tidak dikasi makan saat bulan puasa, paling-paling juga ada yang ngumpat di media sosial. Tapa brata Nyepinya gagal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip tepat sekali, kemajuan jaman menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam pendefenisian kembali tradisi dan budaya tanpa harus meninggalkan hakekat.

      Hapus
  2. Balasan
    1. Agama sebenarnya sudah mengajarkan kita untuk bertoleransi gan, manusianya aja yang kadang agak nyeleneh, terima kasih sudah berdiskusi bersama

      Hapus