Minggu, 22 November 2009

Mengapa begitu takut dengan POLITIK?


Saya terkadang heran kenapa bebeerapa kawan merasa jijik dengan hal yang satu ini. Memang benar, kalau dilihat dari lagunya Iwan Fals arti kata politik itu adalah arti kata paling busuk sedunia. Namun, sudahkah anda pahami apa itu arti politik? Baik secara gramatikal ataupun secara substansial.

Berdasarkan wikipedia definisi-definisi politik bisa di pahami sebagai berikut :
  • politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)
  • politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara
  • politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat
  • politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.


Bagi saya makna kata politik tak lebih sekedar “how-to”. Lebih jelasnya bisa dibaca didalam cerita seperti ini :

seorang mahasiswa meminta uang untuk membayar kuliah Rp. 500.000,00 padahal nilai pembayaran kuliah sesungguhnya adalah Rp. 200.000,00
Atau mungkin cerita lainnya :

Seorang siswa menyampaikan keinginannya untuk menjadi ketua kelas karena merasa senang dipercaya oleh teman-teman sekelasnya untuk menjadi ketua kelas.
Dan masih banyak lagi contoh sederhana kita “berpolitik” di dalam kehidupan.

Di kehidupan berbangsa Indonesia, kesan politik memang tidak bisa dijauhkan dari kesan busuk yang diperbuat oleh para oknum. Saya tegaskan sekali lagi, OKNUM.

Mungkin hal tersebut kemudian menggeser politik secara substansial. Sebuah bagian kecil dari seni kepemimpinan menjadi sesuatu hal yang tak lebih baik dari tindak kejahatan. Persepsi negatif dan apatisme masyarakat pun tumbuh subur ibarat jamur di musim hujan. Untuk yang lebih parahnnya lagi, apatisme tersebut muncul dari kalangan intelektualitas atau dengan bahasa yang mudah dimengerti : MAHASISWA.

Mahasiswa yang bisa juga disebut ujung tombak sebuah Negara berkembang semakin anti dengan kosakata yang biasa disebut : politik.

Sempat ada seorang kawan yang nyeletuk,

“buat apa kau berbicara tentang politik? Itu tidak penting, pelajari sajalah apa yang kau dapat dibangku kuliah”

Saya justru hanya bisa terdiam dan tersenyum sumringah. Bagi saya hal yang terpenting dalam memahami (baca : membicarakan) hal-hal yang bersifat politik adalah bagian dari pembentukan character building of nation. Dari berdiskusi tentang politik saya bisa mengasah kepekaan terhadap gejolak bangsa, karena segala kebijakan pemerintah pada dasarnya adalah kebijakan politik. Kebijakan yang akan berimbas pada semua aspek kehidupan manusia, rakyat dan penduduk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hanya saja dalam sebuah pembicaraan yang berbau politis, satu aturan yang tidak boleh dilupakan ole semua pihak termasuk mahasiswa adalah jangan sampai terjebak didalam politik praktis. Didalam pengertiannya, politik praktis dapat diartikan sebuah gerakan politis yang instan tanpa melalui proses yang panjang. Kalau kita boleh bandingkan, Benazir Butto memiliki sejarah keluarga politis yang panjang. Begitu juga dengan George W. Bush dan nyaris seluruh pemimpin politik paling berpengaruh didunia memilik satu persamaan yang serupa, yaitu masing-masng pernah memiliki orang tua atau leluhur yang konsen kepada situasi politik bangsa mereka sendiri. Akan tetapi hal ini bukan berarti orang yang belum memiliki rekam jejak di arena politik tidak bisa berpolitk. Hanya saja untuk membentuk seorang politikus yang berkarakter negarawan tidak semudah yang selama kita pikirkan. Karena politikus yang dihasilkan dari sebuah sistem praktis hanya melahirkan politikus yang parsial yang ujung-ujungnya menimbulkan penyakit politik seperti pragmatism. Dan itulah potret singkat para wakil rakyat kita.

Kembali pada pembicaraan mengenai mahasiswa dan politik, terlontar sebuah pertanyaan : lalu politik seperti apa yang harus dijadikan pengayaan jiwa-jiwa muda pembangun bangsa?

Jawabnya mudah : POLITIK NILAI, yang selalu mengedepankan nilai-nilai yang fair dan sesuai dengan konstitusi yang diakui. Politik nilai memiliki arti lebih luas, lebih bijak dan lebih positif. Politik nilai ini lah yang harus kita bangunkan didalam karakter kita, agar tercipta pemimpin-pemimpin bangsa berikutnya yang sejati, ksatria serta memiliki jiwa negarawan bukan jiwa-jiwa partai seperti saat ini.

Lalu? Segeralah belajar untuk berpolitik nilai. Jangan takut untuk berpolitik, selama masih ada itikad baik untuk membangun negara yang kita cintai ini. Minimal untuk mencapai hal tersebut, kita bangun dulu diri kita masing-masing.

Minggu, 08 November 2009

Latar Belakang Sebuah Proposal dengan Kepemudaan


“Kita mengenal Hasan Al-Banna, Karl Marx, Taqiyuddin Annabani, Frederich Engels, Adam Smith, Niccolo Macchiavelli, Adolf Hitler, dan Soekarno. Apa persamaan pandangan mereka? Bagi orang awam mungkin tidak ada. Mereka adalah tokoh yang bertolak belakang antara satu sama lain, hidup pada zaman berbeda, dan bisa jadi mempunyai pemikiran saling berbenturan. Namun ada satu hal yang hampir kesemua tokoh itu bertemu pada satu titik puncak, yakni pandangan mereka tentang pentingnya pemuda.

Seorang tokoh proklamator Indonesia, Soekarno, pernah berkata, “Beri Aku 10 pemuda maka akan Aku guncang dunia”. Sekiranya pesan itulah yang cukup dekat dengan kita sebagai mahasiswa. Pesan itu disampaikan oleh bangsa kita sendiri yang juga pendiri bangsa ini. Paling tidak dibanding kita menelaah, majmuatun rosaail-nya Hasan Al-Banna, atau das kapital-nya Karl Max, pesan Soekarno yang seorang Indonesia, lebih mudah kita artikan tanpa alih bahasa. Dan bukan bermaksud memperdebatkan ideologi, namun kesemua tokoh besar itu mengajari kita, bahwa para pemuda selalu bisa menginspirasi perubahan dunia. Pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok, Indonesia 20 atau 30 tahun lagi, sangat ditentukan oleh anak-anak muda yang hari ini berada di kampus-kampus, sekolah-sekolah, gang-gang sempit, bahkan dari pengapnya penjara. Masa depan Indonesia ada di tangan kita, bukan di tangan orang-orang tua.

Seorang pemimpin tidak lahir begitu saja, melainkan ia melalui proses-proses penggemblengan baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara sadar atau tidak sadar proses ini bisa jadi sangat beragam, bukan semata mengikuti kehendak sang pemimpin, namun juga pada kekuasaan yang ada di luar jangkauan mereka. Jika dibandingkan, pemimpin yang lahir dari proses yang panjang ketimbang pemimpin yang lahir secara instan, tentu punya banyak kelebihan, dia bisa berpikir lebih cermat ,kreatif dan terukur. Sehingga masalah yang dihadapinya, setidaknya tidak diperlakukan sebagai gunung tinggi yang tak mungkin didaki, atau lautan luas yang tak mungkin diseberangi. Masalah yang dihadapi oleh para pemimpin itu, hanya menjadi batu pijakan bagi sang pemimpin untuk melahirkan kerja-kerja yang lainnya. Mahasiswa Indonesia khususnya yang berada di kampus-kampus, juga merupakan bagian yang mencerminkan Indonesia di masa yang akan datang. Terlebih mereka yang hari ini aktif dalam organisasi-organisasi mahasiswa, mungkin akan memegang peranan yang sangat besar suatu hari nanti.

Pemimpin masa depan yang dibutuhkan Indonesia setidak-tidaknya harus mempunyai visi yang unggul, mandiri, dan berkarakter. Pemimpin yang unggul akan mampu menginspirasi bangsanya di tengah persaingan kancah dunia, ia akan disegani kawan maupun lawan. Pemimpin yang mandiri nantinya akan melahirkan kebijakan-kebijakan yang tidak bergantung pada bangsa lain, menjadikan bangsanya bangsa terhormat bukan menjadikan bangsanya sebagai een natie van koelis en aander de naties (Bangsa kuli yang menjadi kuli bangsa lain). Pemimpin yang berkarakter adalah pemimpin yang punya ke-khasan tersendiri ketimbang pemimpin biasa. Pemimpin berkarakter punya intuisi dalam menghadapi setiap masalah, dan biasanya karakter seorang pemimpin amat penting karena karakter itulah yang abadi dalam serial buku keteladanan kuliah kehidupan.”

Benar-benar, saya cukup kagum atas pandangan kawan-kawan Dewan Mahasiswa Universitas Negeri Sebelas Maret (DEMA UNS). Meski dalam sebuah proposal yang terpenting adalah Rancangan Anggaran Biaya (RAB) akan tetapi terkadang saya membaca latar belakang dari proposal tersebut. Pemikiran-pemikiran yang tertuang didalam latar belakang tersebut sangat lugas, apa adanya dan memang begitu adanya.

Saya sepakat.

Saya sepakat kalau didalam proposal kita tidak hanya bergulat dengan angka-angka pragmatis namun pengasahan pemikiran-pemikiran non-pragmatis juga harus menjadi poin yang harus kita perhatikan.

Merdeka!

Kamis, 05 November 2009

Mind Set Mengenai Organisasi Kemahasiswaan


Semakin mendekati akhir perjalanan saya menjadi pengurus legislatif di struktural kampus ternyata semakin mengkerucut konflik yang kerap terjadi. Dimulai dari konflik pribadi, hingga berujung kearah organisasi. Bagi saya konflik memang harus ada, namun ada penegasan batas dibalik konflik dan dinamika organisasi kemahasiswaan.. Satu kata penyebab semua ini adalah ego.

“Tanpa ego manusia akan kehilangan kreatifitas”

Itu statemen lugas yang disampaikan oleh moderator dalam diskusi bersama Mapala Cakra Bhuwana beberapa hari lalu. Pada dasarnya saya sepakat, mengingat manusia adalah mahluk yang paling egois. Karena demikian juga saya. Namun pertanyaannya sekarang adalah : “Sebatas mana?” Mengingat setiap hal yang berlebihanpun akan menimbulkan dampak negatif. Lalu? Bagaimana mengatisipasi keberlebihan dari “kewajaran” tersebut?

KESADARAN

Definisi kesadaran disini tidak berarti siuman ketika pingsan atau bermakna moksa (pelepasan jiwa dari ragawi dalam paham umat Hindu ). Akan tetapi kesadaran akan dimana ego berada. Bagi saya tidak ada salahnya sebuah ego begitu berapi-api pada fase organisasi kemahasiswaan. Karena poin dari semua kegiatan kemahasiswaan adalah “proses”, atau kata yang lebih gampang dipahami adalah “pembelajaran”. Lebih spesifik lagi, poin dari kesadaran-terhadap-ego-dalam-organisasi-kemahasiswaan adalah kesadaran terhadap pengelolaan ego itu sendiri. Mempergunakan ego pada ruang dan waktu yang tepat. Karena ego yang tidak terarah dapat mengahancurkan kita sendiri pada akhirnya. Ego adalah kekuatan besar, ego adalah pusaran yang sangat kuat. Ibarat pisau belati, ia dapat membantu ataupun dapat membunuh.

Mari kita melihat ego kita sendiri, sejauh mana kita telah mempergunakannya.