Jumat, 18 September 2009

Big Girl Don't Cry


Hari ini merupakan hari cukup berat, meski bukan secara fisik. Tapi hari ini menguras pikiran dan juga perasaan. Bagi sahabat saya Cok Gek, kehilangan sosok pemikiran seorang sahabat sama beratnya dengan kehilangan sebagian berat badannya. Hal ini terjadi. Entah apa yang mendasari perubahan “sang pembela” (begitu kami menyebutnya) yang begitu signifikan. Apapun itu, perubahan mulai terasa sejak sang pembela keluar daerah untuk mengadakan pertemuan nasional dan telah sukses melaksanakan berbagai kegiatan.

Sepertinya celetukan sahabat saya Hendra tidak salah. Pada berbagai cerita, jati diri dapat berubah karena sebuah kesuksesan, popularitas, pujian atau apalah itu. Maka tidak heran, berapa orang besar tidak suka disanjung begitu dalam. Alasannya : takut terlena dengan pujian dan lupa daratan.

Mungkin saja hal ini yang terjadi. Ya, mungkin saja.

Namun rasanya, menjadi apapun dirinya. Dia tetap menjadi sosok yang edukatif, banyak hal yang dapat kita pelajari dari sang pembela pada dasarnya. Menjadi apapun dirinya dia kawan seperjuangan yang kooperatif. Serta menjadi sahabat yang selalu mengajari tentang kehidupan. Karena pada prinsipnya saya memiliki pedoman hidup : disetiap teman yang saya jumpai adalah guru dan disetiap tempat yang saya kunjungi adalah sekolah.

Intinya : popularitas dan sebuah sistem ternyata mampu mengubah karakter seseorang.

Apa itu Blog dan Belalang yang Tewas


Apa itu Blog?

Pertanyaan ini saya temukan di awal-awal film raditya dika, blogger terbodoh yang pernah terpublikasikan oleh media. Blog itu semacam diari, kisah perjalanan hidup yang ditulis dalam sebuah media. Hanya saja media tersebut ada di dalam dunia internet.


Yep, bagian yang saya paling suka dari dika adalah dia selalu berusaha dekat dengan readers blognya. Apapun itu. Baik suka ataupun duka. Senang ataupun tidak senang. Termasuk menonton film yang diadaptasikan dari Blognya sendiri.

Meski lebih timbul kesan dramatis. Film yang (maunya) genre komedi ini justru menyimpan sebuah pembelajaran hidup. Sebuah cita-cita yang harus diperjuangkan. Meskipun sesederhana membahagiakan orang tua. Dan itu dilakukan seorang pelajar bodoh bernama Raditya Dika.

All the people that we know are teachers and all place that we have standing on are schools. Sebuah motivasi untuk seorang penulis diari (baca : blogger) seperti saya. Karena yang saya inginkan adalah, blog ini akan menjadi catatan kehidupan umat manusia. Setidaknya untuk saya sendiri.

Belalang Malang
Kisah ini terlepas dari penggalan kisah diatas.

Saya memang lelaki yang maskulin, dengan kejantanan yang SNI (Standar Nasional Indonesia) dan body pegulat kelas kecamatan. Meski demikian bukan tanpa phobia, saya sangat takut dengan belalang. Dengan alasan membela diri dari marabahaya, seekor belalang telah tewas di sebuah majalah ponsel dwiminggu.

Godness, semoga diterima disisi Tuhan kawan.

Jumat, 11 September 2009

Komunikasi, Koordinasi dan Konsolidasi


Kalau seruan pemerintah untuk menanggulangi epidemi demam berdarah dengue adalah 3M (Menguras, Mengubur dan Menutup). Saya ada seruan untuk kawan-kawan di dalam berorganisasi. 3K (Komunikasi, Koordinasi dan Konsolidasi).

Dinamika Organisasi
Organisasi bisa diistilahkan sebuah negara kecil. Dimana berbagai pemikiran dan prilaku terdapat disana. Mulai dari pemikir hingga "speaker" yang selalu vokal. Yeah, itulah sebuah pluralisme. Dengan perbedaan yang begitu kompleks, sudah tentu dinamika dan potensi konflik akan semakin kentara. Lalu? Apa yang bisa dilakukan? Banyak pertanyaan mengenai bagaimana menghilangkan konflik dalam berorganisasi.

"TIDAK!"

Sekali lagi adalah TIDAK! Tidak ada dalam kamus organisasi tanpa sebuah konflik yang merupakan representasi dari dinamika. Dalam ilmu manajemen konflik, konflik diperlukan untuk media menempa kemampuan organisasi. Apapun bentuknya, pada dasarnya akan selalu terdapat pemecahan. Mulai tingkat sederhana hingga yang paling ekstrim : pembubaran organisasi. Tanpa konflik, organisasi sama saja dengan ruangan yang kosong. TIDAK ADA YANG BISA DIPELAJARI.

Formulasi Konflik
Pernah saya bertanya dengan seorang kawan yang lebih lama berorganisasi. Bagaimana memformulasi konflik agar menjadi energi positif yang besar?

Jawabannya :

"Konflik ibarat arus laut, tidak perlu kaku untuk menyelesaikannya. Bersikap luwes dan tepat! Maka arus itu bisa dijadikan sebuah kekuatan yang besar. Segera selesaikan dengan tepat dan cepat. Karena ketika konflik sudah terselesaikan, disitulah poin pembelajaran sebenarnya."

Well, terkadang poin sepenting itu tidak kita sadari.