Kamis, 11 November 2010

Narsisme Perjuangan : Sebuah Akar yang Berbahaya


Hari itu memang saya ke Denpasar menggunakan Bis antar kota. Mengingat motor saya sudah dipinjam oleh sebuah teman. Hujan membasahi jendela bis yang tampak kusam, teringat dengan sam dalam posting sebelumnya.

Perjuangan adalah Penderitaan

Rasanya semua orang tahu, bahwa kita sesungguhnya mahluk yang tidak berbeda jauh dengan binatang. Binatang selalu menghindari rasa sakit, begitu pula kita. Binatang selalu mencari kenikmatan dunia begitu pula kita manusia. Memang kita memiliki pikiran sebagai 'tuas kontrol' namun pikiran manusia memang selalu menjadi hal yang tidak mudah untuk bicarakan.

Dalam cerita orang modern, tentu saja keduniawian menjadi kenikmatan tertinggi bagi manusia. Dimana panca indra begitu giat dirangsang, diberikan kenikmatan - kenikmatan dunia agar tetap terjaga dalam rasa nyaman dan jauh dari rasa sakit, sekali lagi kita memang mirip binatang memang. Namun muncul pertanyaan, apakah kenikmatan tersebut nyata adanya? Susah untuk menjawab sebagai manusia yang terlahir di jaman modern.

Nah, hal tersebut pula mulai terjadi dalam pola pergerakan Mahasiswa hari ini. Dimana - mana, tidak ada ceritanya kalau berjuang itu nikmat dari segi duniawi. Hal ini mungkin belum dipahami oleh aktivis pergerakan -termasuk saya. Perjuangan memang penuh dengan penderitaan, kita dituntut untuk mengkebiri beberapa kenikmatan keduniawian yang rasanya susah untuk ditinggalkan. Apabila tidak dipahami dengan perasaan tulus, maka seringkali makna perjuangan adalah penderitaan akan terkompensasi menjadi beberapa hal dan untuk golongan mahasiswa, kompensasi tersebut akan menjelma sebagai Eksistensi, suatu keadaan dimana kita akan ego dengan identitas kita sebagai mahasiswa. Dalam bahasa jalanan, seringkali saya sebut sebagai Narsisme Perjuangan.

Narsisme Perjuangan : Sebuah Akar yang Berbahaya
Lalu? mengapa Narsisme Perjuangan merupakan akar yang berbahaya? Sesungguhnya manusia merupakan mahluk yang menjunjung eksistensi -sekali lagi seperti binatang, seperti anjing yang selalu mengencingi daerah kekuasaannya. Jikalau narsisme perjuangan itu tidak diimbangi dengan sebuah kesadaran : ketulusan perjuangan. Maka adalah niscaya bahwa perjuangan hanya akan menjadi perjuangan kepentingan. Ya, setidaknya kepentingan terhadap rasa eksistensi individu tersebut dan itu akan menjadi akar dari penyakit perjuangan yang lainnya. Tentu saja itu berbahaya karena perjuangan yang ada hanyalah perjuangan onani, perjuangan semu yang tiada dapat menemukan apa - apa.

Untuk itu, sesungguhnya satu hal yang harus menjadi landasan berpikir adalah : Tulus, sebuah sifat yang susah ditemukan di jaman modern seperti hari ini.

Mari coba kita memulai hal dari sebuah ketulusan.

Bis pun tiba di ubung, sembari menunggu jemputan saya membeli roti rasa ayam.

Kamis, 04 November 2010

Kekecewaan Pejuang terhadap Idealismenya


Blog ini memang angin - anginan, rasanya sudah hampir lupa jikalau saya mempunyai senuah blog. Ada banyak hal yang menarik belakangan ini, salah satunya ketika saya memulai perdebataan mengenai idealisme seorang mahasiswa kepada seorang 'mantan' mahasiswa. Sebut saja namanya Sam.

Kekecewaan Pejuang terhadap Idealismenya
Sore itu, ketika hujan deras mendadak menerpa Jakarta Selatan. Sembari tergopoh - gopoh kami mencari tempat cetak foto -kami lupa membawa pas foto pada acara nasional di Jakarta. Perdebatan sebenarnya sudah kami mulai sejak dari dalam pesawat. Sam, seorang pekerja di salah satu Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di kota Denpasar bercerita bahwa ia pernah memiliki jiwa idealisme yang sama seperti saya. Namun, semua menjadi berubah ketika ia menjadi 'budak uang' di dalam bekerja.

Rasa ego atas idealisme diri sudah tentu berang ketika dengan mudahnya idealisme itu de 'mentah'kan begitu saja. Beranggapan bahwa menjadi ideal adalah sesuatu yang bodoh di jaman ini adalah salah satu alasan mengapa ia justru menjadi pengkhianat atas sejarahnya sendiri.

"Aku telah melewati jamanmu kupikir semua hanyalah omong kosong belaka, kita tidak akan pernah menemukan sesuatu yang ideal itu.."

Saya mencoba mencerna dalam - dalam, seperti postingan sebelumnya menjadi idealis di jaman serba moderen sudah barang tentu adalah hal yang 'tampak' konyol.. Kita akan menjadi berbeda dengan orang kebanyakan, menjadi alien.

Saya diam, memandang langit yang sudah reda akan hujan. Sam pun ikut diam. Kami seolah tidak menemukan titik temu karena kami memang berbeda. Yang saya tahu menjaga idealisme itu harus mampu menjaga diri atas hasrat duniawian. Tempat bekerja dan tempat bergaul memang tempat yang rawan untuk idealisme, terjaga atau tidaknya memang tergantung pilihan kita.

"Yang saya tahu, saya dalam upaya - upaya menjaga idealisme. Dunia memang tempat tidak nyaman untuk jiwa yang idealis, saya akan coba. Saya pasti berhasil. Setidaknya menjaga idealisme hingga pada waktunya diperlukan"

Saya senyum tanggung dengan ujung bibir kanan sedikit naik. Saya tidak berusaha menjadi 'lawan' atas kekecewaan terhadap idealismenya. Kami pun memahami, jika kami berada di tempat bersebrangan namun tidak harus saling berhadapan. Hujan sudah reda. Kami segera berangkat menuju hotel.