Selasa, 16 Februari 2010

Mau Jadi Apa?

MAU JADI APA?


Pertanyaan ini seringkali menjadi bahan perenungan saya. Entah dijalan, entah di tempat tidur ataupun di kampus. Terlebih lagi usia perkuliahan sudah memasuki fase PKL (Praktek Kerja Lapangan) dimana setidaknya kuliah 80% telah dilalui. Semakin berumur semakin banyak yang harus dipikirkan. Setelah lulus kemana? Kerja dimana? Mau jadi apa? Terlalu banyak pertanyaan terkadang membuat saya depresi sendiri. Rancana hidup memang sudah saya buat sejak dulu. Lulus D3, lanjut ke S1, lanjut ke S2/Kerja, serta melanjutkan keturunan. Namun setelah dipikirkan justru yang ada malah semakin menakutkan, takut akan plan A tidak terjadi.

...

Ah, let it flow sajalah..

Sabtu, 06 Februari 2010

"100 Hari" Itu..



28 Januari 2010, ini adalah cerita lama yang baru ada niat untuk menulisnya sekarang. Tanggal tersebut tepat 100 kerja Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Berhubung saya sudah tidak ada perkuliahan di dalam gedung. Jadi saya hendak jalan-jalan serta hunting foto di denpasar. Pagi itu saya memang mendengar informasi bahwa akan ada gerakan massa yang cukup massif di jantung kota Denpasar. Menggunakan sepeda motor dan sebuah kamera SLR saya bergegas menuju lokasi.

Pada intinya saya mendapatkan momen yang menarik, banyak foto yang lumayan bagus saya dapatkan meski yang terupload di facebook hanya satu buah. Namun foto yang saya upload mengundang diskusi pelik mengenai pola gerakan pemuda jaman sekarang.





Kalau boleh saya simpulkan ada 2 kubu yang saling menarik di dalam komentar tersebut. Kubu pertama adalah pihak yang bergerak masif yang mendukung gerakan aksi massa seperti demonstrasi yang bersifat ekstra parlemen (parlemen jalanan) kemudian ada kubu yang merupakan antitesa dari kubu pertama, yaitu kubu apatis. Satu pernyataan sikap yang masih saya belum bisa terima adalah "mari terus berkarya tanpa harus memperhatikan politik". Mengapa harus begitu antipati? Apakah karena kekalahan kita terhadap oknum-oknum yang berhasil membuat imej politik menjadi buruk? Atau memang kita lebih peduli dengan menyelamatkan diri sendiri sembari terus berkarya? Saya yakin ketika langkah kebijakan politis sudah memasuki ranah "berkarya" mereka. Mereka akan beringas karena ketentraman "individualistik" mereka di injak-injak. Kalau saya lihat ini tidak lebih dari kelemahan kita memahami situasi nyata hingga kit terkadang harus bersembunyi ketakutan dengan perisai mari-terus-berkarya-tanpa-harus-memperhatikan-politik. Saya benci mengatakan kenyataan yang pahit ini. Saya benci harus mengatakan bahwa tidak banyak orang yang mampu memahami politik sebagai sebuah seni. Ini menyedihkan memang.

Lalu? Apakah saya menjadi hebat, setelah menuliskan kata-kata dan kekecewaan ini?

Ini hanya kegelisahan saja kawan, risalah hati yang masih ingin bangsanya berdiri seperti bangsa lainnya...